Selasa, 24 Januari 2012

Cerpen: Mari Bermain Layang Layang

Teman-teman masih memainkan layang-layang kan? Layang-layang memang permainan yang mengasyikkan.

Permainan ini tidak saja dimainkan anak-anak, tetapi juga orang dewasa menyukainya. Bahkan, ada lomba layang-layang tingkat nasional dan internasional setiap tahunnya.

Layang-Layang terbuat dari lembaran bahan tipis berkerangka yang diterbangkan ke udara.
Lembaran tipis ini terhubung dengan tali atau benang sebagai pengendali. Layang-layang memanfaatkan kekuatan embusan angin sebagai alat pembubungnya.

Ada catatan yang menyebutkan bahwa permainan layang-layang telah ada di China sejak tahun 2500 sebelum Masehi.

Konon, layang-layang pertama berasal dari caping petani China yang melayang karena diterbangkan angin.

Namun, baru-baru ini ditemukan lukisan orang yang sedang bermain layang-layang pada dinding gua di daerah Sulawesi Tenggara. Gua ini diperkirakan pernah ditinggali manusia suku Muna pada zaman batu.

Layang-layang tradisional suku Muna bernama Kaghati. Layang-layang ini masih dibuat hingga sekarang. Kaghati terbuat dari daun ubi hutan yang disebut kolophe dan bambu rami. Benangnya terbuat dari serat nanas.

Kaghati sering mengikuti festival layang-layang nasional maupun festival internasional.
Kaghati pernah mendapatkan penghargaan dari kalangan pencinta layang-layang sebagai layang-layang paling alami yang masih bertahan hingga saat ini.
Layang-layang sebagai alat permainan dapat berupa layang-layang hias atau layang aduan. Layang-layang aduan biasanya dimainkan pada masa pancaroba sebab angin berembus sangat kuat pada saat itu.
Selain itu, layang-layang juga dipergunakan sebagai alat ritual.
Layang-layang diterbangkan sebagai bagian dari acara ritual pertanian pada beberapa daerah di Indonesia.
Selain itu, di beberapa daerah, layang-layang digunakan sebagai alat memancing. Layang-layang untuk memancing terbuat dari daun anggrek tertentu. Layang-layang ini kemudian dihubungkan dengan mata kail. Ada pula layang-layang yang dipasangi jerat untuk menangkap kalong atau kelelawar. Layang-layang juga digunakan sebagai media energi alternatif. Seperti layang-layang raksasa menarik kapal pengangkut. Caranya, kapal membentangkan layar raksasa seperti layang-layang saat angin berembus kencang. Kapal pun berlayar dengan tarikan layang-layang sehingga bahan bakar kapal dapat dihemat.
Beberapa negara di Asia mengenal permainan layang-layang seperti:
Layang-layang disebut boneka kertas. Uniknya layang-layang hanya diterbangkan hari Jumat (hari libur) pada musim dingin saat liburan sekolah.
Layang-layang kecil yang biasa dimainkan oleh anak-anak disebut patingak (kupu-kupu) atau mahibak (ikan kecil).
Pada peringatan hari ulang tahun anak, layang-layang diterbangkan untuk mengusir roh jahat.
Layang-layang Korea terbuat dari rangka bambu dan kertas. Bentuknya persegi panjang dan berlubang pada bagian tengahnya.
Layang-layang di Thailand dibedakan berdasarkan jenis kelamin, terutama layang-layang buat perlombaan. Layang-layang lelaki disebut Chula, sedangkan layang-layang perempuan disebut Pakpao.
Sejak tahun 1906, festival layang-layang ditetapkan menjadi olahraga nasional di Thailand.
Layang-layang di Vietnam dapat berbunyi! Ya, layang-layang di Vietnam dilengkapi dengan alat musik bambu tradisional yang memiliki tiga lubang.
Setiap kali angin kencang membubungkan layang-layang, terdengar bunyi suitan dari bambu tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar