airmata adalah bahasa yang melintasi seluruh peradaban manusia dan setiap ruang yang pernah dijangkau oleh cahaya mentari, airmata adalah bahasa paling tegas dan jujur serta bahasa yang mampu dimengerti oleh setiap mahluk perasa... tangismu yang tak terlihat merobek ruang waktu dan menghampiriku dengan caranya sendiri, mari sini kuhapus airmatamu, kukecup keningmu dan kutidurkan engkau dibahuku, mari sini kita berbicara tentang hari-hari yang begitu biru...
Minggu, 10 Juni 2012
Kampungku
Maros, Suli – Suli begitulah nama dan sebutan untuk kampungku. Suatu kampung yang menjadi tempat saya bersama keluarga dan teman – temanku dan menjadi tempat yang paling nyaman buat saya ketika mendapatkan masalah. Walaupun sebenarnya kampung saya ini sangat jauh dari pusat kota Maros, namun kampung saya sudah lebih maju meskipun masih banyak kekurangan yang terdapat di dalamnya.
Merilik letak geografisnya, kampung ini boleh dikatakan juga sebagai kampung agraris karena 95 % masyarakatnya hidup dan bekerja sebagai kaum petani, selebihnya bekerja sebagai buruh bangunan dan wiraswasta dan petani tambak. Corak kehidupan yang beranekaragam di kampung ini menjadi salah satu ciri yang sangat menonjol dan tumbuh dan ada hingga sekarang. Namun seiring dengan perkembangan zaman paham modern mulai masuk dan mengusik cirri khas yang ada dalam kampung ini hingga akhirnya banyak masyarakat yang dengan rela menjual tanahnya dengan harga murah dan beralih profesi dan meninggalkan kampung ini.
Hal ini di perparah dengan banyaknya anak yang harus mengenyam pendidikan tidak semestinya di karenakan banyaknya orang tua yang berfikiran bahwa tak ada gunanya hidup sebagai petani. Hal ini harusnya menjadi bahan yang sangat perlu di pemerintah Kab. Maros namun semua itu tidak di sentuh sama sekali pemerintah.
Kurangnya perhatian pemerintah juga membuat warga enggan untuk mengikuti aturan yanmg di buat oleh pemda maros. Bukti nyata tidak adanya perhatian pemerintah terhadap kampung ini di perkuat oleh badan jalan utama warga kampung yang menjadi sarana satu – satunya yang bias di gunakan untuk kegiatan sehari – harinya dari tahun 1988 sampai sekarang tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah beda dengan kampung yang ada di sekitarnya jalan sudah mendapatkan betonisasi bahkan sudah ada desa yang di jadikan percontohan pembngunan.
Selain sarana dan prasarana yang belum di perbaik, polemik juga terjadi di dunia pendiddikan masyarakat kami, “ kurangnya tenaga pengajar yang berkompoten mengakibatkan banyak siswa yang tidak bias bersaing dengan sekolah – sekolah lain di sekitar kampung hingga hal ini memicu maraknya eksploitasi anak yang di lakukan oleh para orang tua selain pendidikan juga yang paling parah adalah tidak adanya sarana penampungan air bersih.
Hingga ketika musim kemarau warga harus mengambil air minum di desa sebelah yang jaraknya sekitar 3 km dari kampung hal ini juga tidak pernah dim perhatikan pemerintah yang ke tiga di sampaikan bahwa structural kepemimpinan dan tata pemerintahan di kampung ini masih sangat jauh dari kata sempurna artinya kampung ini seperti sebuah kerajaan yang harus di pimpin oleh satum generasi saja’’, ujar Dg. Bustan salah satu tokoh masyarakat yang ada di kampung ini.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar