Kehidupan saat ini seolah tinggal menghitung detik perputarannya. Dimana roda kehidupan itu berputar, disitulah perjalalan hidup ini dimulai. Peradaban yang semakin menipis bahkan menghilang bukan lagi sebuah polemic yang harus dipertentangkan, jati diri bangsa dan Negara ini tinggal kenangan masa lalu yang pada hari ini sudah tidak ada lagi. Paceklik telah melanda kehidupan bangsa ini, dimulai dari paceklik kesejahteraan sampai pada paceklik moralitas. Kemerdekaan bangsa ini yang sudah sangat lama seharusnya bias menjadi sebuah tonggak untuk kita lebih maju dan lebih optimal dalam pengembangan bangsa dan Negara.
Pertaruhan kelanjutan hidup negeri seakan menjadi sebuah isyarat bahwa, saat ini kita harus bangkit melawan ketidakberdayaan yang sejak lama tidak bias hilang dari muka bumi. Slogan-slogan politik makin hari makin banyak menghiasi kehidupan, mulai dari slogan anti penindasan, anti KKN sampai pada anti pemerintahan yang bobrok. Semua itu hanya bualan semata yang lahir demi sebuah kepentingan abadi yang nantinya hanya akan dimilki oleh sebuah kelompk tertentu untuk mencapai tujuannya. Bukankah ini adalah sebuah kemerosotan bahkan ini menjadi sebuah degradasi untuk negeri ini, dimana negeri ini dulunya mempunyai aungan yang menggema kepenjuru dunia. Aungan itu perlahan tapi pasti, seiring dengan perputaran roda waktu dan kehidupan anungan yang tadinya bergemuruh akhirnya menghilang dan bahkan lenyap tanpa jejak.
Sebuah kenyataan yang memilukan jiwa, ketika semua itu harus hilang akibat ketidak berdayaan kita melawan waktu, kita hanya bisa mengikuti keinginan waktu tanpa mempunyai keinginan untuk merubah sebelum semua ini pupus didepan mata kepala kita.
Kemerosotan negeri ini sudah Nampak sekali dirasakan oleh rakyat, pembunuhan kreativitas mayarakat dengan cara melegalkan pemilki modal asing untuk menanamkan saham sehingga para pengusaha local yang masih bergerak dengan tradisionalnya harus tersisihkan oleh kehadiran mereka. Kekuatan feodalisme, kapitalisme, imperialism yang kemudian menjelma sebagai kedok baru dan dalam kemasan baru namun, unsur didalamnya tetap sama, itu semua masih sangat dipelihara oleh negeri ini. Topeng tebal yang menyembunyikan sebuah realitas yang pahit itu semua dihilangkan demi sebuah alasan keselematan dan keamanan. Sebuah ketakutan masih menjadi alasan utama ketika negeri ini dipenuhi dengan kutu-kutu kemunafikan, keserakahan dan kepuasan diri sendiri yang akhirnya menghilangkan rasa perikemanusiaan.
Menjelang usia kemerdekaan negeri yang sudah usur, Indonesia saat ini belum bisa mencapai cita-citanya dalam pemenuhan kesejahteraan dan kemandirian bangsa sehingga, keadaan negeri ini masih larut dalam degradasi yang nantinya akan bermuara pada sebuah kehancuran. Harusnya negeri ini “lebih realistis menatap kedepan” agar semua kekurangan-kekurangan dimasa lalu dapat terselesaikan sehingga cita-cita negeri ini juga bias terwujud.
Penegakan Supremasi Hukum
Kekurangan negeri ini slah satunya adalah minimnya penegakan supremasi hukum. Dimana masih banyaknya KKN yang terjadi dimana-mana. Power hukum yang juga menjadi salah kekuatan konstitusi negeri ini tidak lagi menjadi patokan utama dalam menjatuhkan sebuah hukuman ataupun sebuah keputusan. Relitas membuktikan dihadapan mata kita, bahwa sesunggunhya hokum di negeri ini hanya sebuah tenda yang terpasang diatap rumah, ketika lama terkena hujan dan teriknya panas matahari tenda itu akan hancur dengan sendirinya.
Analogi tersebut menjadi sinyal kuat bahwa hukum di negerri ini hanyalah pelindung yang btak pernah diurus. Sungguh ironis memang, jika kita melihat kenyataan yang ada dihadapan kita, ketika hukum saat ini yang selalu diperdebatkan baik kalangan bawah maupun kalangan diatas, mengingat hukum yang dibawa oleh penjajah masih kita pertahankan sementara di negeri asalnya sudah tidak berlaku lagi.
Kemana lagi mereka yang tertindas mengadu ketika mereka mendapatkan perlakuan yag tidak wajar, karena bagi mereka sekarang ini tidak ada tempat yang bias menampung aspirasi mereka. Kantor megah yang dibangun menggunakan uang mereka, mereka sendiri tidak bisa injak lagi, apakah ini sebuah keadilan ?. setiap detik, menit bahkan setiap kedipan mata terlihat kemurkaan mereka yang diatas sana ketika harus kembali bertatap muka dengan mereka yang telah memeberi amanah. Apakah ini adalah sebuah tanda-tanda kehancuran yang terjadi di negeri ini?. Pertanyaan ini akan terus dilontarkan ketika kita kembali melihat sekeliling kita.
Tentang saya ;
Nama Lengkap : Muhammad Arif
TTL : Maros, 09 Desember 1988
Pekerjaan : Mahasiswa Fakultas Hukum UMI angktan 2008, pimpinan perusahaan cakrawala-ide 2010-2011
Hoby : Sepak Bola, Basket Ball, nongkrong sama teman
Motto : Lakukanlah tindakan kecil untuk perubahan yang besar
Orang tua
Ayah : Bustan H. Yangka
Ibu : Deddeng
Pekerjaan
Ayah : Petani sawah
Ibu : IRT
Saudara
Perempuan : Muminang Bustan, Spd. Madaniah Bustan, Saenab Bustan, Sag. Hasniah Bustan, ST.
Laki-laki : Nasrun Bustan, Spd.Mpd.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar