Sebuah hembusan angin diawal kehidupan pagi ini kembali memberikan kekuatan untuk beberapa detik kedepan. Setiapa hentakan kaki seiring dengan hembusan nafas yang masih ada dari dalam tubuhku. Aku berjalan ssambil memendangi beberapa pohon sekitar hingga aku melotot pada sebuah bunga yang memiliki bunga yang berwarna ungu. Alangkah indahnya bunga yang begitu elok itu meskipun sebenarnya semua itu takkan bertahan lama, seiring dengan perubahan musim yang terus berjalan.
Tak ada langit yang bisa menjadi putih ketika awan itu tak mau lagi bersamanya. Tak ada lagi senyuman ketika semua mulut dan bibir itu dibungkam. Lihatlah dirimu itu! kau tidak ubahnya seperti manusia tanpa jiwa, manusia tanpa roh, sungguh kasian diam tak berdaya. Keluarlah wahai penunggu kegelapan, bangkitlah untuk menjadi mata dari semua kegelapan dalam warna hidup manusia yang tak berjiwa itu.
Begitu banyak mercu suar kehidupan yang tak pernah mampu menerangi jembatan kegelapan antara jiwamu dan jiwaku. Takutlah aku padaNya. Hahahah, mengapa saya harus takut yach? Dia kan??? Ah lupakan saja ia. Oh sang kegelapan!!! Mungkin engkau akan abadi dalam pertarungan waktu, tapi kau takkan akan menjadi pemenang dari peperangan melawan waktu. Diamalah kalian para bedebah brensek!. Kalian tidak ubahn ya seperti sampah manusia yang takkan hilang walaupun ditumpuk dalam tempat yang paling kotor sekalipun.
Aduh! Semuanya ternyata menginginkan takdir berkata lain. Tapi tidak untuk menguak seribu, atau bahkan jutaan tabir kebiadaban sang waktu bagi mereka yag telah bertarung melawan sang waktu. Setiap jiwa manusia yang kau ambil itu, mereka akan engkau apakan? Tidakkah mereka berhak untuk ada di samping sang penjaga keabadian?.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar