Kahlil Gibran lahir di desa Bsherri, bagian utara Lebanon (negeri yang dalam bahasa Smith kuno berarti “putih”, seperti serpihan salju yang abadi di lereng gunung-gunungnya), pada tanggal 06 Januari 1883. Kota yang sarat dengan kebun anggur yang indah, buah-buahan yang besar, air terjun Kadisah dengan jurang yang dalam yang sering dikisahkan oleh sang penyair. Di tengah desa, terletak makam Gibran, berada di Kapel Biara Mar-sarkis, dan museum kecil yang didedikasikan untuknya di lantai ketiga gedung Gibran Tok. Museum itu berisi cat air dan kanvas, serta beberapa koleksi milik Gibran.
Ayah Gibran bernama Khalil bin Gibran, seorang petani biasa. Ia hidup seperti petani-petani yang lain yang tidak memiliki obsesi apa-apa selain menjalani hidup apa adanya. Sementara ibunya, Kamila, anak seorang pendeta. Ketika menikah dengan ayah Gibran, Kamila seorang janda yang sudah mempunyai putra bernama Peter. Sang ayah hampir tak memiliki pengaruh apapun terhadap Gibran. Sebaliknya, ibunyalah yang paling berpengaruh. Ia seorang polyglot (menguasai bahasa Arab, Prancis dan Inggris), dan dikaruniai dengan bakat seni musik. Dialah yang pertama mengenalkan Gibran pada karya sastra Arab terkenal, Kisah Seribu Satu Malam dan Tembang Perburuan-nya Abu Nawas. Dia pula yang mengajari Gibran melukis.
Pada tahun 1894, Peter, saudara tirinya, yang saat itu berusia 18 tahun merantau bersama kawan-kawannya ke Amerika. Kemudian, pada tahun yang sama pula, Gibran, Mariana dan Sultana ikut merantau ke Amerika di bawah pimpinan kakak tirinya, Peter. Tinggal di Boston, di mana penduduk asli Bsherri membentuk di China-town. Tapi Kahlil Gibran sungguh beruntung, ia satu-satunya anggota keluarga yang berkesempatan untuk mengenyam pendidikan. Sedangkan Peter dan kedua adiknya bekerja untuk memperoleh uang. Di sekolah, Gibran termasuk murid yang cerdas, dan selalu memperoleh nilai tertinggi di kelas dibandingkan teman-teman Amerika-nya. Sang guru melihat kejeniusannya. Dan karena saran dari gurunya pula, Gibran menyingkat namanya yang semula bertuliskan “Gibran Khalil Gibran” menjadi “Kahlil Gibran”, dengan memindah huruf ‘ha’ pada nama pertamanya.
Setelah dua tahun sukses belajar di Amerika, pada tahun 1896-1901, Gibran pamit kembali ke Lebanon untuk belajar menguasai bahasa aslinya dan juga karya-karya orang Arab. Ia belajar di sekolah terkemuka, Madrasah al-Hikmah, di Ashrefiet, Beirut. Di sekolah itulah Gibran belajar banyak tentang seni, sastra, pengobatan, agama dan filsafat. Di tempat itu pula Gibran bertemu dengan seorang perempuan bernama Hala Daher, cinta pertamanya yang kemudian pengalamannya diabadikan dalam novelnya yang terkenal The Broken Wings (Sayap-sayap Patah) dengan nama samaran, Selma.
Setelah lulus dari al-Hikmah pada usia ke 18, Gibran merantau kembali ke Paris untuk belajar melukis. Namun pada tahun 1903, Peter menyurati Gibran untuk kembali ke Boston sebab saudaranya, Sultana, meninggal akibat Tuber Culosa dan ibunya sakit keras. Setelah tiba, Gibran membawa ibunya ke rumah sakit. Tapi kemudian, Peter, yang membiayai pendidikan Gibran pun meninggal. Disusul tiga bulan kemudian ibunya meninggal. Kematian berantai yang menimpa keluarga tercinta Gibran, menimbulkan kesedihan yang mendalam di dalam jiwanya. Akhirnya, Gibran tinggal dengan salah satu saudaranya yang selamat, Mariana.
Pada tahun-tahun selanjutnya, Gibran sering membuka galeri lukisannya dan menerbitkan karya-karyanya, termasuk di sini, karya monumentalnya yang berbahasa Arab direvisi, The Prophet (Sang Nabi). Ditemani wanita cantik bernama Mary Haskel, seorang kepala sekolah. Menurut Joseph, percintaan Gibran kepada beberapa wanita terbagi menjadi dua macam cinta, Cinta Platonis dan Cinta Fruedian. Cinta Platonis adalah cinta yang didorong oleh spiritual dan intelektual. Sementara Cinta Fruedian didorong oleh dorongan seksual. Mary Haskel adalah cinta Gibran macam yang pertama. Sedangkan Emile Michael yang dipanggil Micheline, seorang wanita muda asal Prancis yang mengajari Gibran bahasa Prancis di lembaga Haskel, adalah cinta Gibran macam yang kedua. Namun kemudian, Gibran berencana memilih untuk menjadikan Mary Haskel sebagai pasangan hidupnya dalam sebuah ikatan pernikahan. Ini dikarenakan Mary Haskel begitu baik padanya.
Namun, Mary menolak, ia hanya mau dijadikan semata kekasih tanpa ikatan apa-apa. Sebaliknya, hubungannya dengan Michael kandas ketika Gibran menerima Michael sebatas sebagai kekasih, sementara Michael menginginkan Gibran menikahinya.
Di sisi lain, ada dua orang wanita lain yang dekat dengan Gibran. Seorang bernama May Ziyadah, kawan pena Gibran. Meski belum pernah bertemu dan bertatap muka, dalam surat-suratnya kepada May, ada kesan bahwa Gibran juga menaruh hati kepadanya. Bahkan dalam sebuah surat, Gibran membayangkan dirinya dan sangat menginginkan untuk mengakhiri hidupnya di dekat May. Selanjutnya wanita yang dekat dengan Gibran dan telah dianggap sebagai sahabat dekat, Berbara Young, ia menjadi tertarik pada Gibran sejak mendengar pembacaan The Prophet, bahkan sering menjadi asisten Gibran dengan suka rela, tanpa menerima upah.
Demikian kehidupan Gibran yang selama hidupnya, karya-karyanya tidak sedikit yang berbicara tentang perempuan. Dari berhubungan dengan ibunya, kekasih sampai kepada sahabat wanitanya, karya-karya Gibran mengalir. Karya-karyanya yang berkenaan dengan perempuan banyak terinspirasi dari mereka. Akhirnya, pada tanggal 10 April 1931, pada usia 48 tahun, di Rumah Sakit St. Vincent, New York, Sang Penyair menutup matanya untuk selamanya. Sesuai pintanya, ia dibawa ke Lebanon dan dimakamkan di biara tua yang sunyi, Mar-sarkis di Wadi Kadisha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar