Kamis, 18 Agustus 2016

Esensi atau Sensasi
( sebuah coretan dimomentum kemerdekaan )

Tahun ini, tepatnya tanggal 17 Agustus 2016 negara republik Indonesia merayakan kemerdekaannya yang ke- 71 tahun. Angka 71 merupakan angka yang jika mengaju pada konteks usia manusia, indonesia sudah sangat tua dan tidak akan kemabali muda.

Sebuah coretan kecil kemudia saya untai dalam momentum kemerdekaan RI ini. kekinian, beragam acara yang dilakukan warga diseluruh indonesia untuk merayakan kemerdekaan ini namun, dibalik semaraknya menjelang dan perayaan kemerdekaan ternyata banyak hal yang membuat saya melihatnya aneh untuk dilakukan. Kado terindah yang datang dari arena pegelaraan olahraga empata tahunan Olimpade Rio brazil 2016 yaitu berpa medali emas yang diberikan oleh pasangan pebulu tangkis ganda campuran Indonesia Owi dan Butet. Hanya satu dari sekian banyak kado manis yang didapatkan indonesia diperayaan kemerdekaannya yang menginjak angka 71.

Jika kita bicara soal kado manis, tentunya kita juga punya kado buruk dimomentum kemerdekaan ini. salah satunya dengan ditanda tanganinya perpanjangan ijin kelolah PT Freeport. Kado ini jelas menjadi pesan ataupun sebuah warning bagi kita bahwa dimana nehara kita belum bisa mewujudkan kedaulatan atas kekeyaan alam yang kita miliki. Sungguh menjadi sebuah ironi tersendiri dalam perjalann bangsa yang sduah sangat tua dari segi usia namun, belum mampu untuk lepas dari kepentingan luar untukn mengambil alih semua SDA yang ada di negeri ini.

Dengan ditanda tanganinya ijin perpanjangan Freeport artinya indonesia semakin jauh dari kesejahteraan. Tanah Papua yang begitu indah dan memiliki SDA melimpah akan terus dikeruk demi kepentingan modal yang berkuasa di negeri ini. Kasian!!!, sungguh ungkapan yang tepat untuk kita ucapakan terkait dengan perjalanan bangsa ini.

Sejak era orde lama hingga era “edan” ala Jokowi, kita telah banyak dipertontonkan drama kolosal terkait dengan penguasaan asing terhadap kekayaan SDA kita. Bung Karno, sang proklamator yang memilki rencana untuk melakukan nasionalisasi aset negara kemudian dilengserkan atas nama ideologi. Hal itu juga menjadi cerita ataupun sebuah sejarah buruk yang pernah ada di negeri ini.

Kuatnya interpensi elit, penguasa, modal dan parpol menjadi cerita tersendiri yang hingga detik ini tidak memilki jalan terang dalam penyelesaiannya. Kekerasan masih terus mengintai rakyat indonesia yang “katanya” merdeka. Masyarakat adat yang kehilangan lahannnya kemudian diganti dengan tanaman sawit, masyarakat Papua yang hiduo dari sagu disuruh beralih menjadi petani padi, proyek tambang dengan dasar tidak jelas muncul dimana-mana. Sungguh ironi kehidupan dalam bangsa kita yang selalu mengedepankan nilai-nilai kultural yanga di masyarakat. Inilah segelintir fakta yang tengah terjadi di indonesia yang yang dalam benak kita apakah ini esensi atau hanya sebuah sensasi di angka 71...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar