Dengarlah
Dengarlah
Gunakan hatimu tuk mendengar
Atau, biarkan ia melihat betapa telanjangnya aku
Betapa merintihnya aku memanggil-manggil namu mu
Lihatlah
Kubah malam kian dekapkan seluruh rasaku
Atau mungkin, aku tak berdaya apapun akan segalanya tentang kamu?
Saat dadaku terhimpit akan sebuah kecerobohan indah
Aku tak merasa akan ada dosa disana
Atau tak berfikir telah melangkahi batas kemungkinan
yang angkuh dihadapanmu.
Aku pikir kita sama rasa ketika meliahat laut
Atau sama terbawa ketika mendengar alunan meditasi para biksu
Kita sama-sama tersenyum saat tatapanku kau rengguk dari mataku
Saling terkesima saat bercerita tentang kita saat pertama kali bertemu
Dengarlah..
Saat kedamaian bertuan didadamu ketika melihat hanya aku
Sesungguhnya disaat itu
Akulah yang pantas mendapatkan kedamaian itu
Saat malammu menjadi puitis akan hayal tentangku
Aku lah kata-kata itu
Yang kau tulis dalam lembar kisah hidupmu mu.
Tapi matahari akan segera terbit
Aku harus kembali menuai hati
Membagi kasih, atau mungkin berbalik hati
Aku tak tahu
Aku bingung
Dengarlah
Kau tak pernah salah
Takan pernah ..
Dan aku pun akan bersalah
Jika tak sedikit pun adanya cinta untukmu.
Malam ini aku mencintaimu
Malam ini aku mencintaimu
kemarin dan esok hanya kau yang kucintai
bahkn lebih dalam malam ini
melebihi kemarin juga esok
aku tak mencintaimu karena masa depanmu
juga tidak karena masa lalumu
iya, aku mencintaimu hanya karena malam ini
ia adalah abadi
melewati kemarin dan hari esok
Aku mencintaimu malam ini bukan lantaran kau adalah bebintangan
sebab ia kan sirnah jika didera mentari
juga malam ini aku mencintaimu bukan karena kau adalah rembulan
sebab cahayanya kan pudar bersama rotasi khatulistiwa
yang selalu menggoda hari
aku mencintaimu malam ini karena tak ada sesuara apapun yg kudengar
hanya rangkaian balok keheningan yang membentuk ritme kerinduan
hingga yang terngiang hanya namamu
yang merasuk kedalam pori-pori udara malam
Kau tahu ??
bukan hanya telingaku yang mendengar
tapi udara tipis yang menembusi kulit tipisku pun ikut mendengar indahnya namamu
kedinginan yang mendera seaakan takluk
kemudian berubah menajadi sebuah dekapan hangat
Malam ini aku mencintaimu
karena kemarin dan esok telah merapatkan masa-nya
membentuk dirimu dalam totalitas kerinduan malam ini....
---------------------
Tanpa judul
Sejuta rasa mencengkram kesadaran
Sejuta asa berpadu menjadi sebuah pinta
Tiada kata yang mampu menjelasakan
tiada makna yang bisa berdiri tegak
tiada bahasa yang mampu memahami
semuanya mengalir
semuanya begerak
tanpa henti ...
bahkan lidah tak bisa berucap
semuanya bergerak bebas teratur
mengalunkan nada-nada indah bak sepoi siulkan setiap nyiur
malam ini aku bisu
ruang ucap dicekoki ribuan bahasa
kadang merah, hitam, biru, kuning, puith
semuanya hadir bersama
semuanya melabrak kesadaran
entah, Anggur telah memabukanku
mana mungkin kata kan sanggup menjawab?
Mana mugnkin seorang pemabuk dapat berkata?
Yang kurasa hanyalah ketakberdayaan rasa
Yang ku dengar hanyalah sapaan kerinduanku
Yang kutulis hanyalah sebait mesra
Tapi Itu tak cukup
Aku benar-benar mabuk
Terpicu akan sebuah anugerah indah
Tersipu akan lintasan kemilau kosmis
Yang berrotasi dalam syahdumu
aku benar-benar bisu akan kata-kata
Tapi kesadaran kadang hinggap dalam sepenggal kalimat
Aku jatuh dalam keribaanmu
Aku lemah dihadapanmu
Seperti lemah dihadapan CINTA ku sendiri....
Semua itu karena mu
Apakah harus cinta mesti kuucap lagi??
Senyummu
Hei... seperti apakah kau malam ini
apakah wajah merahmu masih tetap tersenyum ceria?
ataukah lelap telah menjagamu?
aku percaya dalam tidurpun senyum mu itu masih saja terjaga
aku mersakannya
aku merindunya malam ini
bisakah kau layangkan padaku senyum tipis mu itu?
disaat pikir terbayang ialah kamu...
hanya bentuk wajah yang lahir dari senyum indahmu
aku tak tau, atau mungkin belum juga kutemukan
seperti apa wajahmu jika diderah amarah
malam ini aku seperti orang yang terhipnotis
hanya mendapat sugesti tuk selalu memabayngkan wajahmu ...
kau tahu???
hanya senyuman mu yang selalu bertuan dimataku...
tapi aku mencintaimu bukan hanya karena senyuman itu ...
keharmonisanmu
Jejak suaramu adalah harmonisasi senar harpa
Sejauh penghayatan
Jejak itu semakin bercabang
Dalam setiap arah mata angin
Suaramu menggema getarkan sukma
Menjelma menjadi kekupu
Menghisap sgala sari rasaku
Binar matamu adalah harmonisasi kemilau warni
Sejauh memandang
Kemilau itu kian menyilau
Dalam gesekan udara dingin dengan air
Tatapanmu kian mengendap
Menyelinap diantara wewarnian kosmos
Hingga kau adalah pelangi yang mewarni
Saat ini
Kau adalah harmonisasi setiap keindahan
Sejauh rasa menghasta
Auramu mencandra disetiap kata
Senyummu menyelinap tirai gundahku
Jika rasa menghasta pada Sang Asa
Aku percaya, dalam keindah-harmonismu
Kaulah manifestasi segala keindahan sang Syakur,,
Dibawah ranting pinus
aku datang padamu disetiap senja kan menjingga
merangkai rasa yang tersaji indah diatas rerumputan pinus
entah, alam terlalu indah dengan wewarnian bunga
ataukah haru ku terbawa mesra saat petang kan datang menyejuk
kau melebarakan senyum hingga pelangi kan indah disisi bukit
aku terharu saat itu dikala matamu sayup meredup
silaukan rasa yang lama terpenjara
aku berdiri disetiap sisi citramu
menggengam asa yang tersipu haru diatas keheningan jiwa
entah, petang terlalu dini datangkan riang
ataukah syahduku berirama saat burung gema berkicau
kau menaburi keindahan hingga dunia ku terbuka akan kepastian
aku terbawa ketika auramu menjadi imaji
namun fikir kadang diam membaca tanda yang lama seirama
aku bicara padamu disetiap fikir adalah kamu
merangkai rasa yang terbentuk dari sepenggal senyum tipis
entah, petang terlalu cepat datangkan malam
ataukah syaraf imajiku mengerucut saat bebintangan kalahkan siluet
kau menghampiri tatapanku dengan segala wewarnian alam
aku terjebak dan sadar akan rasa adalah kamu
namun dingin terlalu merinding getarkan bibir tanpa kata apapun
kini penglihatanku silau saat matamu melintasi tatapanku
membuat bukit sekitar tak lagi nampak mengelopak
entah, kabut tlah merenggut setiap sudut
ataukah optiku terhalang binar menyilau saat lihat hanyalah kamu
kau menyapaku dengan segenggam tatapanmu
aku terdiam saat jejaring imaji yang terpuisikan ialah kamu
entah, apakah kau mengalami hal yang sama?
Tanpa judul 2
Disetiap hembusan angin
Aroma itu ber-tuan dalam penciumanku
Ku ingin mengurai keharuman yang menjamah rasa
Tapi kau tetap menjauh
Dan melintasi pandanganku
Hingga aku seperti berkaca padamu dalam cermin yang tak terpantul
Senyum yang kau lemparkan menabrak dinding imajiku
Membekas dalam segores tanda manusiawi
Kemanapun tangan kan melangkah
Yang tertulis adalah kerinduan
Yang terangkai adalah keindahan
Mencakrawalakan rasa yang terbang hinggap dihujung melati
Kau yang masih saja melebarkan senyum keindahanmu
Keharuman melati itu masih saja memabukanku
Entah, segala arah angin tlah terbangkan ilalang
Namun kau tetap bertahan
Mengalunkan keindahan bak nyiur sambut mentari pagi
Aku seperti pendaki yang gemar memuncaki setiap bukit
Atau seperti petani yang merindukan kehijauan
Mungkin saja aku masih terlalu pagi tuk segarkan melati
entah.....
asikeeee
BalasHapus