Senja tak lagi menjingga
Aku melihat awan memperdalam kehitaman
Semakin petang keindahan menjadi kehilangan
Saat hujan riak menenggelamkan
Langkah menjadi kaku dalam pelukan
Aku berlari diatas setiap genangan
Mengejar angan yang mesti dituangkan
Tapi, tak ada lagi kubangan
Tak ada lagi laut kebiruan
Mencoba melewati jembatan berpengharapan
Namun jebakan semakin menyuamkan
Aku jatuh, jatuh bergelimpangan dalam setap retakan
Senja tak lagi menjingga
Aku melihat dalam diriku begitu kejauhan
Semakin mengenang kau menjadi khayalan
Saat rasa kian merindukan
Mata menjadi buta dalam perkataan
Langkah menjadi kaku dalam pendengaran
Aku berbiacara dalam tiap tatapan
Mengejar hasrat yang mesti kudapatkan
Tapi, tak ada lagi harapan
Tak ada lagi sapa kerinduan
Mencoba melewati rintanagan
Namun nurani insyaf menyadarkan
Aku menyesal, menyesalkan rasa yang lama terobralkan
Senja tak lagi menjingga
Begitu lama aku durhaka pada perasaan
Semakin jauh kian sadar aku akan penyesalan
Saat kau hadir dalam setiap jelmaan
Langkah menjadi kaku mengelisahkan
Aku berbicara dalam setiap ratapan
Mengukir pinta pada setiap kesalahan
Tapi, ego seolah jauh mengiklsahkan
Bawah sadar begitu gampang mengkondisikan
Mencoba tak mendengarkan setiap saran
Namun nurani insyaf menyadarkan
Aku menyesal, menyesalkan rasa yang lama terobralkan
Aku harus menyerah pada purnama dibalik mega
Dan berkata pada hujan yang menggema
Aku terjaga, aku terjaga dan terjaga
Senja tak lagi menjingga
Aku melihat awan memperdalam kehitaman
Semakin petang keindahan menjadi kehilangan
Saat hujan riak menenggelamkan
Langkah menjadi kaku dalam pelukan
Aku berlari diatas setiap genangan
Mengejar angan yang mesti dituangkan
Tapi, tak ada lagi kubangan
Tak ada lagi laut kebiruan
Mencoba melewati jembatan berpengharapan
Namun jebakan semakin menyuamkan
Aku jatuh, jatuh bergelimpangan dalam setap retakan
Senja tak lagi menjingga
Aku melihat dalam diriku begitu kejauhan
Semakin mengenang kau menjadi khayalan
Saat rasa kian merindukan
Mata menjadi buta dalam perkataan
Langkah menjadi kaku dalam pendengaran
Aku berbiacara dalam tiap tatapan
Mengejar hasrat yang mesti kudapatkan
Tapi, tak ada lagi harapan
Tak ada lagi sapa kerinduan
Mencoba melewati rintanagan
Namun nurani insyaf menyadarkan
Aku menyesal, menyesalkan rasa yang lama terobralkan
Senja tak lagi menjingga
Begitu lama aku durhaka pada perasaan
Semakin jauh kian sadar aku akan penyesalan
Saat kau hadir dalam setiap jelmaan
Langkah menjadi kaku mengelisahkan
Aku berbicara dalam setiap ratapan
Mengukir pinta pada setiap kesalahan
Tapi, ego seolah jauh mengiklsahkan
Bawah sadar begitu gampang mengkondisikan
Mencoba tak mendengarkan setiap saran
Namun nurani insyaf menyadarkan
Aku menyesal, menyesalkan rasa yang lama terobralkan
Aku harus menyerah pada purnama dibalik mega
Dan berkata pada hujan yang menggema
Aku terjaga, aku terjaga dan terjaga
Senja tak lagi menjingga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar