Berlari dan berlama-lama dalam kubangan yang tak pernah mengalir
Tanpa hulu juga hilir namun riak melaju seiring hasrat riang mendesir
Aku merasa berada dalam sepenggal laut
Membiru dan beratalu dalam rasa yang tak akhir menjurus
Hanya serpihan-serpihan kerinduan menyapa dalam sebentuk kata
Aku seperti karang yang hanya diam saat ombak deruh bergemuruh
Menahan kecemburuan tanpa tahu dimana arus kan pecah berakhir
Atau seperti danau kecil ditengah rimba yang hanya ditemani cahaya sang bulan
Aku menjadi dingin dalam hamparan suam menyinari
Terperangkap dalam partikel cahaya yang terkadang meng-gelombang
Atau jatuh dalam dualitas cahaya para fisikawan
Hingga rasaku terdifraksi dibalik dinding cermin
Menguap, mengangkasa, bermetamorfosa menjadi butiran hujan
Tapi aku tetap saja berada dalam kubangan yang mengalirkan diri sendiri
Iya, aku masih saja terus mengalir tanpa tahu dimana kan berakhir
Saat musim panas berganti dedaunan berguran
Belama-lama nampak hijau mengering ditiap ranting
Sekuat mawar kan mekar, pun seteguh itu ku mengakar
Sayang..musim panas terlalu menukik
Meng-uap-kan segala bebasahan ditiap kubangan…
Aku harus berserah pada kejujuran
Memberimu rasa yang masih bimbang ditepi kubangan
Ku ingin mendekepamu sadalam biruku
Namun asa tlah menguap atau terhisap dalam asal kejadian
Suburkan rantingmu dalam harap kembali hijau
Walaun pun tak terliahat
Ku kan selalu menguap dalam semesta dimana kau adalah tetesan
Yang pernah dan selamnya sejukan dunia ku…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar