Penulisan sains dalam karya fiksi bukan hal yang baru. Kalau menyimak sejarah, penulisan sains dalam karya fiksi secara sembrono bisa mengancam keberadaan sains itu sendiri.
***
Pada tahun 1959 C. P. Snow memilah penulis sains dalam dua kelompok. Pada satu pihak disebutnya golongan literer (literary intellectual), sementara di pihak lain kelompok ilmuwan (scientist). Kendati sama-sama berminat pada sains, hubungan mereka tidak berlangsung mesra.
Snow memperlihatkan pada dekade 1930-an kelompok literer membanggakan diri sebagai intelektual, seolah tidak ada orang yang lebih pintar dari mereka untuk menyampaikan ilmu pengetahuan kepada masyarakat. Kelompok baru itu mengabaikan hasil kerja astronom Edwin Hubble, matematikawan John von Neuman, ahli fisika Niels Bohr, Werner Heisenberg, dan Albert Einstein. Para ilmuwan itu di mata kelompok literer lebih dianggap tukang saja.
Dalam edisi kedua The Two Cultures (1963), Snow menyisipkan satu esai berjudul "The Two Cultures : A Second Look". Tulisan itu menyiratkan optimisme Snow akan hadirnya third culture yang bisa mempersempit kesenjangan budaya penulisan sains antara kelompok ilmuwan dan intelektual.
Golongan itu membongkar tradisi penulisan sains yang serba rumit sehingga bisa dimengerti oleh awam. Brockman (1995) memasukkan sederet nama ilmuwan yang digolongkan third culture seperti : Stephen Hawking, Paul Davies, Doyne Farmer, Roger Penrose, Martin Rees (fisika); G.C. Williams, Richard Dawkins, Lynn Margullis, Niles Eldredge, Stephen Jay Gould (biologi); Daniel Dennet (filsafat); James Lovelock (kimia); dan masih banyak lagi.
Third Culture dan Supernova
Kelompok third culture sudah bisa menggugah minat awam terhadap sains hasil temuan mereka. Gagasan-gagasan seperti Hipotesis Gaia, Selfish Gene-Selfish Meme, fuzzy logic, fractal, tanpola (chaos), artificial inteligence, dll, mulai ditulis oleh para ilmuwan dengan bahasa dan jargon populer, bukan lagi khas jurnal ilmiah.
Ciri pokok yang bisa ditemukan dari karya third culture adalah pemakaian jargon-jargon yang lebih gampang dicerna awam, salah satunya dengan gaya sastra. Semua itu dilakukan tanpa menyimpang atau membesar-besarkan gagasan mereka.
Ambil contoh cara Richard Dawkins membuat judul buku dengan gaya yang sastra seperti River Out from Eden, Climbing Mount Improbable, The Blind Watch Maker, Unweaving The Rainbow, dan The Selfish Gene. James Lovelock, menggunakan metafor Dewi Gaia dari budaya Yunani untuk menjelaskan Hipotesis Gaia. Lynn Margullis mencantumkan puisi Emily Dickinson sebagai pembuka bab demi bab buku Symbiotic Planet.
Semangat yang mirip ditemukan pula dalam satu novel fiksi Supernova. Dalam bagian …Cuap-cuap Penulis… Dee menuliskan keinginan dia mengubah citra sains yang selama ini dianggap mengerikan bagi awam. Kendati demikian, penulisan Supernova kontras dengan arah third culture.
Supernova justru mencantumkan banyak jargon sains yang rumit, mulai fisika sampai tanpola. Istilah-istilah yang belum lazim dalam penulisan fiksi di Indonesia seperti bifurkasi, amplifikasi, turbulen, dll, dipakai untuk menjelaskan gagasan sang penulis.
Fenomena itu berbeda pula dengan ciri sastra Indonesia yang lazim. Biasanya sastrawan memakai metafora untuk menyampaikan gagasan yang rumit dengan memanfaatkan gejala-gejala yang umum. Ambil contoh metafora menggigit biji duku yang digunakan oleh Ayu Utami dalam Saman untuk menyampaikan gagasan tentang perasaan yang getir.
Sains dan sains-semu
Reaksi pembaca terhadap gaya itu berbeda-beda, tapi secara umum bisa dipilah dalam tiga kelompok. Ada yang tidak mengerti, ada yang memuji , dan juga mengirim kritik yang pedas, seperti dalam artikel "Pesona Sains dalam Fiksi" (Kompas, 11 Maret 2001).
Bagi kelompok ketiga, Supernova jadi perkara bukan karena memperkenalkan gaya penulisan yang baru. Alasan untuk menanggapi secara serius kehadiran Supernova adalah kehadiran sains-semu (pseudo-science) bersama-sama sains dalam satu karya fiksi yang bisa membuat pembaca salah paham.
Untuk membedakan sains dengan sains-semu bisa kita gunakan kriteria yang diberi oleh Karl Popper. Ciri pokok sains menurut Popper adalah falsifikasi. Suatu teori sains memberi celah untuk diuji dan digugurkan oleh siapa pun. Teori dalam sains tidak mencari pembenaran, malah penyangkalan lewat ujian-ujian yang bisa menggugurkan teori itu sendiri. Kalau ada teori yang mencari-cari pembenaran jelas tidak masuk kategori sains.
Ada banyak gagasan dalam Supernova yang memerlukan pembenaran daripada penyangkalan. Bisakah Anda menguji atau menyangkal klaim-klaim berikut : proses bifurkasi dalam ingatan manusia atau adanya Maha Rencana dalam sinkronisitas?
Sains-semu : baik atau buruk?
Gagasan semacam itu serupa dengan imajinasi tentang ‘penciptaan manusia baru’ dalam novel Frankenstein; kedatangan alien dalam film X-Files; penghancuran sejumlah kota di Bumi dalam film Independence Day; munculnya Dinosaurus dalam Jurassic Park; astrologi; Efek Mozart; sampai kaitan ras dengan IQ dalam teori The Bell Curve; dll.
Apakah gagasan-gagasan tersebut berbahaya karena tergolong sains-semu? Tentu saja tidak. Tidak ada persoalan dengan klaim-klaim Supernova atau kedatangan alien. Novel Frankenstein, atau film Superman, ET, Star Wars, Star Trek tetap saja menarik sebagai hiburan, termasuk bagi mereka yang melek sains.
Fisikawan Krauss dalam buku Beyond Star Trek dan The Physics of Star Trek malah memanfaatkan sejumlah adegan kisah fiksi-ilmiah untuk menjelaskan teori fisika Newton sampai kuantum. Dalam buku itu Krauss juga membantu pembaca membedakan antara ‘teori fisika’ hasil fantasi (sains-semu) dengan teori fisika betulan.
Persoalan baru muncul jika gagasan-gagasan itu memicu pengertian-pengertian yang keliru tentang sains. Astrologi jadi berbahaya jika coba dijelaskan dengan salah satu teori dalam fisika sehingga orang mengira astrologi adalah bagian dari fisika. Sains-semu yang disampaikan sebagai sains, bukannya membantu memperkenalkan sains ke masyarakat, malah sebaliknya. Salah satu dari sejumlah teori sain yang kena getah sains-semu adalah Hipotesa Gaia dan teori evolusi Darwin.
Hipotesa Gaia dan Evolusi Darwin
Ketika melontarkan gagasan Hipotesa Gaia, Lovelock menjelaskan bahwa Gaia menggunakan paradigma holistik, kehidupan di Bumi dilihat dari atas turun ke bawah (makrokosmik), kontras dengan kebanyakan teori biologi yang meneliti secara mikrokosmik (Lovelock;1979;xi). Kata ‘holistik’ dalam pengertian Hipotesa Gaia, langsung saja disambar oleh sekelompok orang untuk membenarkan pandangan spritual mereka.
Dalam pengertian budaya pop, Gaia adalah seorang dewi pelindung Bumi yang akan menghukum manusia yang merusak lingkungan atau memberi rahmat kepada manusia yang menjaga lingkungan (Margulis;1998;118). Lynn Margulis, kolega setia Lovelock, menyesali beredarnya pengertian Gaia yang amburadul itu.
Lovelock juga mengeluhkan sikap sembrono itu. Coba saja timbang. Sebagai sains, Gaia masih harus melewati banyak ujian. Gara-gara misleading itu, Gaia tidak saja dianggap ngawur oleh ilmuwan, tetapi membahayakan sains. Bagi mereka, Gaia adalah sejenis ilmu astrologi yang memanfaatkan sains (Lovelock;2000;253).
Nasib Lovelock mungkin lebih baik daripada teori Charles Darwin. Sejak The Origin of Species terbit pada tahun 1859, banyak orang salah mengerti mengenai seleksi alam yang digagas Darwin. Pengertian seleksi alam diobral secara sembrono ke segala bidang, mulai biologi, sosial, ekonomi, sampai politik.
Salah satu implikasi dari kekeliruan itu adalah muncul konsep pemurnian etnis (eugenik) oleh Francis Galton dan sosial darwinisme (Herbert Spencer). Dua konsep itu ikut memperkokoh pengertian rasisme yang menguat terutama menjelang dan selama Perang Dunia II.
Sekurangnya tiga juta jiwa melayang selama pembantaian etnik oleh Nazi, belum termasuk korban eugenik. Riwayat teori Darwin dan Hipotesis Gaia adalah ilustrasi yang bagus terhadap implikasi dari penyebarluasan pengertian sains yang keliru.
Kiranya mulai bisa dirumuskan problem yang harus dihadapi oleh seorang sastrawan yang ingin memanfaatkan sains dalam karyanya. Pada satu sisi, sains terikat pada disiplin yang tidak boleh diputar-balik seenak perut demi membenarkan sains-semu.
Pada pihak lain, seorang sastrawan memerlukan ruang yang memadai untuk mengumbar imajinasi. Akan tetapi, jika imajinasi dalam karya fiksi malah menciptakan misleading dalam sains, karya itu tidak saja merusak pengertian sains itu sendiri, tetapi bisa mengancam jiwa manusia.
Masih adakah ruang untuk berimajinasi untuk penulis novel fiksi bertema sains? Bisakah sastra dan sains dipertemukan dalam satu karya tanpa harus terjebak menjadi sains-semu?
Bahan bacaan :
• Awuy, Tommy F.; "Supernova: Tantangan Baru bagi Kritik Sastra "; Kompas, 18 Maret 2001
• Brockman, John; The Third Culture : Beyond the Scientific Revolution; Simon & Schuster ; 1995
• Dee; Supernova episode Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh; Truedee Books; 2000
• Salomo Simanungkalit, dkk; "Dewi Lestari Simangunsong"; Kompas, 1 April 2001
• Lawrence M. Krauss ; Beyond Star Trek : Physics from Alien Invasions to the End of Time; Basic Books;1997 (manuskrip)
• Lawrence M. Krauss; The Physics of Star Trek (Star Trek Series); Harperperennial Library ; 1996
• Lovelock, James E.; Gaia : A New Look at Life on Earth; Oxford University Press;1979 (edisi revisi 1995)
• Lovelock, James E.; Homeage to Gaia : the Life of an Independent Scientist; Oxford University Press; 2000
• Lynn Margullis; Symbiotic Planet: A New Look at Evolution; Basic Books; 1998
Beda Antara belajar Sains n Menekuni Sains
Contoh ini menurut saya sederhana dan bisa dicerna banyak orang, namun memberikan ilustrasi yang sangat tepat dengan perbedaan antara mempelajari sains dan menekuni sains.
Problem yang dihadapi atau ilmu yang dikuasai adalah Bahasa Inggris. Sebagian pembaca artikel ini saya yakin tahu Bahasa Inggris meski tingkat penguasaannya berbeda-beda.
Situasi pertama:
A adalah seorang Indonesia yang tidak menguasai Bahasa Inggris. Kemudian A memutuskan untuk mempelajari Bahasa Inggris dengan mengikuti kursus Bahasa Inggris.
A menghadiri kuliah yang diberikan dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, tentang Bahasa Inggris.
A memiliki akses dan dibolehkan membaca buku tentang aturan tatabahasa Bahasa Inggris (English grammar) dalam edisi dwibahasa (yakni menjelaskan tatabahasa Bahasa Inggris dalam Bahasa Indonesia). A juga dibolehkan membaca kamus Bahasa Inggris-Bahasa Indonesia dan kamus Bahasa Indonesia-Bahasa Inggris.
A dibolehkan membaca buku dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dalam bidang ilmu selain Bahasa Inggris (sejarah, matematika, politik, komputer, antropologi, dll).
A dibolehkan untuk berbicara dengan orang-orang yang menguasai Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, dan dibolehkan bertanya kepada orang-orang tersebut tentang Bahasa Inggris dan bidang ilmu selain Bahasa Inggris.
A dibolehkan menonton film/televisi, mendengarkan radio/musik/CD dalam Bahasa Inggris.
A dibolehkan mengamati kegiatan orang-orang yang berbahasa Inggris disekitarnya, dan membandingkan pembicaraan mereka dengan perilaku mereka.
Situasi Kedua:
B adalah seorang Indonesia yang tidak menguasai Bahasa Inggris. Sekarang B ditempatkan di sebuah negara yang berbahasa Inggris.
B hanya dibolehkan berbicara kepada orang-orang di negara tersebut dalam Bahasa Inggris dan tidak dengan bahasa lain (termasuk bahasa isyarat/tarzan, jadi misalnya B tidak boleh menunjuk suatu benda dan menanyakan apa kata Bahasa Inggris untuk benda tersebut).
B tidak memiliki akses dan tidak dibolehkan membaca buku tentang aturan tatabahasa Bahasa Inggris (English grammar) dalam edisi dwibahasa (yakni menjelaskan tatabahasa Bahasa Inggris dalam Bahasa Indonesia). B tidak dibolehkan membaca kamus Bahasa Inggris-Bahasa Indonesia dan kamus Bahasa Indonesia-Bahasa Inggris. B hanya dibolehkan membaca buku English grammar dalam Bahasa Inggris dan kamus Bahasa Inggris yang juga menggunakan Bahasa Inggris.
B dibolehkan membaca buku dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dalam bidang ilmu selain Bahasa Inggris (sejarah, matematika, politik, komputer, antropologi, dll).
B dibolehkan untuk berbicara dengan orang-orang yang menguasai Bahasa Inggris saja, atau orang-orang yang menguasai Bahasa Indonesia saja, dan dibolehkan bertanya kepada orang-orang tersebut hanya tentang bidang ilmu selain Bahasa Inggris.
B dibolehkan menonton film/televisi, mendengarkan radio/musik/CD dalam Bahasa Inggris.
B dibolehkan mengamati kegiatan orang-orang yang berbahasa Inggris disekitarnya, dan membandingkan pembicaraan mereka dengan perilaku mereka.
Permasalahan yang dihadapi A dan B adalah sama:
Mendapatkan pengetahuan lengkap tentang Bahasa Inggris baik dari segi tatabahasa, kosa kata, pengucapan, dan lain sebagainya.
Sekarang renungkan sejenak. Menurut saya: A jelas berada pada situasi yang lebih mudah. B berada pada situasi yang lebih sulit, dan perbedaan kesulitan yang dihadapi B dibandingkan A adalah bagaikan perbedaan langit dan bumi. Situasi pertama yang dihadapi A adalah analog dengan mempelajari sains. Situasi kedua yang dihadapi B analog dengan menekuni sains. Bahkan jika A ditempatkan pada situasi dimana A harus mempelajari bahasa yang relatif lebih sulit dikuasai dari Bahasa Inggris (misalnya Bahasa Rusia, Bahasa Cina, Bahasa Jepang, dll), menurut saya tetap situasi yang dihadapi A relatif lebih mudah dibandingkan situasi yang dihadapi B.
Jika kita sudah melihat situasi B, sekarang apakah yang B bisa lakukan agar dia dapat berhasil menyelesaikan tugasnya untuk menguasai Bahasa Inggris. Jawabannya adalah:
B harus menguasai ilmu dan metode untuk mempelajari bahasa baru yakni ilmu dan metode linguistik (linguistics). Linguistik adalah ilmu yang mengkaji tentang bahasa secara umum, tanpa memandang secara khusus bahasa apa yang dipelajari. Untuk mengetahui lebih jauh tentang linguistics, silakan mengecek artikel Wikipedia (dalam Bahasa Inggris) dibawah ini:
http://en.wikipedia.org/wiki/Linguistics.
Jika B menguasai linguistik, maka B dapat mengkaji Bahasa Inggris yang digunakan orang-orang disekitarnya dengan sistematik dan menggunakan metode linguistik yang telah teruji. B kemudian dapat merumuskan aturan tatabahasa Bahasa Inggris, aturan pengucapan kata-kata dalam Bahasa Inggris, kamus dan kosakata Bahasa Inggris, dan lain-lain.
Jika B tidak menguasai linguistik, maka B bisa saja mencoba-coba berbagai pendekatan untuk mencapai tujuannya, namun jelas bahwa B akan menemui kesulitan yang lebih besar dibandingkan jika B telah menguasai ilmu linguistik dan menggunakan metode linguistik. Bisa jadi bahwa pada akhirnya B akan menemukan ilmu dan metode linguistik itu sendiri sebelum dia menerapkan ilmu dan metode linguistik tersebut pada permasalhan untuk menguasai Bahasa Inggris! Sekarang problem B telah berlipat ganda: Dia tidak hanya harus menemukan dan menguasai Bahasa Inggris, namun dia juga harus menemukan dan menciptakan ilmu dan metode linguistik.
Jadi dari diskusi di atas disimpulkan bahwa B sebaiknya telah menguasai linguistik sebelum ditempatkan di negara asing tersebut. Jika B belum menguasai linguistik dan telah ditempatkan di negara asing tersebut, B sebaiknya mempelajari linguistik, sambil menerapkan ilmu dan metode linguistik yang tengah dipelajarinya untuk mempelajari Bahasa Inggris dari orang-orang di sekitarnya.
Kemudian, bahkan jika B telah menguasai linguistik, masih ada banyak masalah yang muncul dalam usaha B untuk mempelajari Bahasa Inggris:
Tidak semua orang menggunakan Bahasa Inggris dengan tatabahasa yang baku dan benar. B mungkin akan bingung jika dia mendengar dua kelompok menggunakan ekspresi yang berbeda untuk maksud yang sama. Kalangan yang menggunakan Bahasa Inggris baku berkata “I want to go to school“, sementara kalangan yang menggunakan Bahasa Inggris yang tidak baku berkata “I wanna go to school“. Bagi orang yang tidak tahu, sulit untuk menentukan mana diantara kedua bentuk ini yang benar.
B yang latar belakangnya adalah Bahasa Indonesia, tidak mengetahui beberapa karakteristik khusus Bahasa Inggris yang tidak ditemui dalam teori linguistik Bahasa Indonesia seperti: Bahasa Indonesia menggunakan pola DM (Diterangkan-Menerangkan, misalnya meja bundar), namun Bahasa Inggris menggunakan pola MD (Menerangkan-Diterangkan, misalnya round table). Bahasa Indonesia tidak mengenal gender untuk kata ganti orang ketiga (dia dalam Bahasa Indonesia bisa digunakan untuk laki-laki atau perempuan, sementara dalam Bahasa Inggris she digunakan untuk perempuan dan he digunakan untuk laki-laki). Bahasa Indonesia menggunakan banyak sekali awalan, imbuhan, dan akhiran, sementara Bahasa Inggris tidak. Jika B tidak segera menyadari adanya kemungkinan perbedaan semacam ini, sangat mungkin sekali B akan tersangkut dan menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk memahami hal yang sekilas tampak mudah dan sepele seperti perbedaan antara MD dan DM.
Kemudian B sekali lagi yang latar belakangnya Bahasa Indonesia, belum tentu menyadari adanya perbedaan antara penulisan dan pengucapan dalam Bahasa Inggris. Kasus sederhana mengapa kata Bahasa Inggris “run” dibaca “ran”, sementara kata Bahasa Inggris “put” dibaca “put”, bisa jadi sangat membingungkan.
Dari situasi dan persoalan yang dihadapi A dan B, kita bisa menarik beberapa ciri-ciri:
Situasi yang dihadapi B secara umum jauh lebih sulit dari situasi yang dihadapi oleh A.
Yang dapat dilakukan oleh B sebelum memulai tugasnya adalah mempersiapkan dan membekali diri dengan ilmu dan metode untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya.
B akan menghadapi berbagai situasi dan perbedaan antara Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, yang meski nampak mudah/trivial bagi mereka yang sudah mengetahui, akan nampak sulit/non-trivial bagi B yang sama sekali tidak mengetahui tentang Bahasa Inggris.
Ciri-ciri situasi yang dihadapi B, merupakan salah satu bentuk nyata dari ciri-ciri umum pekerjaan menekuni sains, namun sudah dikhususkan hanya untuk kasus mempelajari Bahasa Inggris. Masih ada beberapa contoh situasi lain yang akan saya jelaskan dalam seri tulisan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar