Selasa, 08 Mei 2012

Jilbab Dan Pergeseran Nilainya.

Kerudung… Maaf bila kau hanya kujadikan selendang pelindung kelemahanku Tidak sebagai penjaga kehormatanku. Kerudung… Kau hanya kujadikan senjata keayuanku untuk meluluhkan hatinya, bukan sebagai tameng kesolehanku, tanda baktiku pada Ilahi. Kau tidak lagi menjadi cahaya terang penawar kegelapan dihatiku yang rapuh Kini ku hanya melihatmu sebagai selembar kain tanpa makna yang akan kujadikan sebagai pelengkap kesempurnaan keindahanku… Jilbab dan Akumulasi Kapital Islam sangat menganjurkan dan mewajibkan bagi setiap muslimah ( wanita islam ) untuk mengenakan jilbab, seperti yang disyaratkan dalam Al-Quran An-nur ayat 31 yang artinya “katakanlah kepada wanita yang beriman dan hendaklah mereka menutupkan kerudung kepalanya sampai dadanya” . bagi seorang muslimah jilbab merupakan lambang kesucian dan kemuliannya, jilbab juga tidak jarang menjadi pelindung bagi wanita muslim dari tangan-tangan orang jahat sebab jilbab adalah lambang ketakwaan dan keimnan seorang muslimah. Namun kini seiring dengan berkembangnya zaman, sebagian nilai yang dikandung agama pun ikut tenggeser perlahan-perlahan. Jilbab termasuk dalam sebagian nilai yang tergeser oleh zaman ini. bilah dulu wanita Islam dikenal dengan akhlak yang baik karena “membungkus” dirinya dengan jilbab, pandangan itu kini perlu didiskusi kembali (mulai diragukan), alasannya bukan karena semakin sedikitnya wanita muslim yang berjilbab saat ini, tapi justru karena semakin banyaknya jumlah wanita muslim yang mengenakan jilbab saat ini, namun alasan kenapa berjilbab bukan sebagaimana yang anjurkan agama seperti yang diisyaratkan dalam ayat di atas (QS Annur : 31), juga bukan karena dorongan internal (will to). Tapi alasan sebagian wanita muslim mengenakan jilbab saat ini, dalam pandangan penulis, adalah karena “dibombardier” terus menerus oleh media masa baik cetak maupun elektronik yang menawarkan jilbab dalam varian dan model yang menjadi trend sehingga mengundang “syahwat” para wanita muslim untuk mengenakan jilbab meskipun hakekat berjilbab sesuai standarisai agama tidak terpenuhi. Jika dulu predikat kolot, kuno atau ketinggalan zaman sering dilekatkan kepada wanita yang berjilbab, asumsi itu kini berbalik sesuai makana yang “direproduksi” saat ini. Berjilbab kini menjadi trend dan bagian dari budaya populer. Hampir tiap hari iklan jilbab dengan model/bintang iklan yang diidolakan hadir lalu mencekoki kepala kita, masuk ke alam bawah sadar kita, lalu mengekspektasi dan kita pun seolah-olah butuh akan jilbab yang kita konsumsi setiap saat lewat media elektronik maupun media cetak tadi. Di lain tempat dan waktu yang tidak kita sadari, kita telah menjadi donator yang berhasil membantu kelancaran proses akumulasi capital–proses pelipat gandaaan serta penumpukan kekayaan kapitalis pemiik industry sandang dan media masa (pengiklan). Selain membantu proses akumulasi kapital dengan mengenakan jilbab yang sesuai trend masa kini, (karena jilbab telah menjadi ladang bisnis kapitalis guna menumpuk kekayaanya), kita pun turut serta mereproduksi makna jilbab sebagai salah satu fariabel pendukung kecantikan dan daya tarik wanita (yang lagi-lagi, sesuai trend). Dalam padangan penulis, sebagian besar wanita muslim yang mengenakan jilbab sebagaimana trend saat ini hanya sebagian kecil yang benar-benar berjilbab karena keiginan internalnya (kesolehan internal) dan bukan konstruksi frame dominan. Sementara hampr sebagian besarnya karena modis dan gaya yang mendukung penampilanya. Memang di jaman ini agak sulit membedakan, mana yang berjilbab karena ibadah kepada Allah SWT dan mana yang berjilbab untuk hamba Allah SWT. By Desine Desain jilbab yang kini beredar dan dipasarkan sebagian besar tidak memenuhi standar sebagai penutup aurat, karena banyak yang hanya terbuat dari kain yang tipis, yang sebenarnya tidak sesuai dengan tujuan dan fungsi jilbab itu sendiri, tidak sedikit wanita muslim yang menjadikan jilbab sebagai alat bergaya dan pamer-pameran model, yang sebenarnya tidak dibenarkan di dalam Islam yang justru memuliakan jilbab. Hal ini bisa dilihat di berbagai kampus, kebanyakan dari mereka yang berjilbab, mengenakan celana dan baju yang serba ketat atau dengan rok, tapi tingginya sampai melewati betis. Tidak hanya di dunia kampus, hal ini sering juga kita jumpai di tempat-tempat umum, tidak sedikit wanita yang berjilbab namun akhlaknya sangat bertentangan dengan apa yang (baca: jilbab) ia kenakan, bahkan tidak jarang yang bejilbab tadi (maaf), melakukan hal-hal yang tidak etis menurut norma agama dan moral. Kebanyakan wanita islam menjadikan jilbab hanya sekedar formalitas belaka, nanti dipakai ketika ada acara atau karena jilbab sudah menjadi aturan di tempat yang ia tuju. Sekedar pakai setelah itu dilepas, makanya tidak heran ada banyak perempuan berjilbab tapi terkesan mempertontonkan lekukan tubuhnya yang terkesan mengumbar dan menggoda kaum pria. Kalau begini jadinya, perintah dalam agama untuk berjilbab memang sudah terpenuhi tapi alasan dan tujuan mengenakan jilbab yang sebenarnya tidak tercapai, hal itu disebabkan karana tidak sedikit wanita Islam yang berjilbab, bukan karna Allah, melainkan karena kepuasan hatinnya (untuk ber-euforia, trend dll) juga karena orang lain. Maka jilbab kini bukan lagi penutup melainkan pembungkus kepalah. Padahal tujuan sebenarnya adalah menjaga kesucian wanita dari gangguan dan pandangan yang mendekati zina, juga untuk menutup aurat seperti yang dijelaskan lebih lanjut dalam Al-Qur,an yang artinya: Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung’’. (QS. An-Nur: 31). Sangat disayangkan dan sunggu kasihan, bagi wanita muslim yang mengenakan jilbab hanya karena allah SWT, mereka yang berjilbab karena ibadah kepada Alllah secara tidak langsung juga ikut terangkum dalam opini yang terbangun di kalangan masyarakat yang bermuatan sinis serta ketidak percayaan yang terlanjur terkonstruk terhadap mereka yang mengenakan jilbab. Jilbab bukan lagi menjadi lambang kesucian hati melainkan sebagai pelengkap busana wanita, jlbab bukanlah lagi menjadi penjaga kehormatan wniita dari pandangan pandangan yang jahat, melainkan menjadi daya tarik kesempurnaan penampilanya, jilbab dipakai bukan lagi karena kewajiban atas perintah Allah SWT, melainkan dipakai karena aturan instansi tertentu, jilbab tidak lagi menjadi penutup aurat melainkan sekedar pembungkus kepala dari panas matahari. Bukan tanpa sengaja, jilbab didesine sedemikian rupa dengan varian dan model bermacam-macam, hingga ada yang tipis bahkan tidak memenuhi standar penutup aurat dalam agama, lalu digembar-gemborkan melalui media masa dan jejaring social lainya yang bisa dimanfaat untuk menginjeksi kepala kita, dengan maupun tanpa bintang iklan yang difavoritkan. Ini adalalah grand disine yang memang sengaja didesine dan tujuannya untuk men-demoralisasi kita, mulai dari cara kita berpakaian hingga tindakan dan perilaku kita. Kita sengaja dijauhkan dari nilai-nilai keagamaan, moral, serta budaya ketimuran kita, sekaligus kita dijadikan bagian yang memperpanjang hidupnya kapitalisme. Kita sengaja dibuta seolah-olah butuh (padahal sebenarnya tidak) dengan membili dan menggunakan barang yang sedang nge-trend, (termasuk jilbab yang tidak sesuai dengan stadarisasi agama tadi). Silahkan kroscek faktanya! Kembali ke “khitah” jilbab Berbusana rapi merupakan cerminan wanita alim yang penuh takwa, berjilbab bukan hanya menutup kepala, karena yang lebih penting adalah “menjilbabkan” hati atau selalu melekatkan jilbab di hati tiap Muslimah (selain dikepala) yang terjewantahkan sampai pada tindakan atau perilakunya. Sementara perkembangan trend dan model jilbab sangat mempengaruhi nilai dan manfaat jilbab itu sendiri, bila jilbab bertujuan untuk menutupi aurat wanita dan menjadi cerminan ketakwaanya, harusnya seperti bukan menjadikanya senjata pemikat untuk mempertontonkan kecantikan dengan beragam cara dan model tanpa sadar dan memperlancar proses akumulasi capital peneyebab kerusakan moral masyarakat yang tentunya, tidak bertujuan kepada yang Tansenden. Padahal, tujuan akhir dari segala sesuatu yang begeraka adalah menuju yang Transenden. Kepada-Nyalah segala akan kembali, maka dalam tindak dan laku pun, idealnya diarahkan pada rujukan yang bersumber dari yang Transenden dan Absolut tadi. Dan Jilbab seharusnya digunakan sebagaimana yang dianjurkan agama, tanpa emebel-embel apapun. Tulisan ini tidak bermaksud mengklaim, menjustifikasi atau mendakwa siapapun, ini hanya sekedar refleksi penulis yang disandarkan pada hukum-hukum langit yang diwahyukan kepada Manusia Sempurnah (Muhammad Bin Abdullah SAW) dan menjadi pegangan bagi siapa saja yang cinta rindu pada kebenaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar