airmata adalah bahasa yang melintasi seluruh peradaban manusia dan setiap ruang yang pernah dijangkau oleh cahaya mentari, airmata adalah bahasa paling tegas dan jujur serta bahasa yang mampu dimengerti oleh setiap mahluk perasa... tangismu yang tak terlihat merobek ruang waktu dan menghampiriku dengan caranya sendiri, mari sini kuhapus airmatamu, kukecup keningmu dan kutidurkan engkau dibahuku, mari sini kita berbicara tentang hari-hari yang begitu biru...
Minggu, 11 November 2012
Dariku, UntukMu!!!
Ini adalah coretan awal November, sekaligus menjadi cerita pembuka dan lanjutan dari kisah penutup di bulan Oktober kemarin.
Ketika semua elit dan birokrasi hanya menjadi bagian dari kehacuran keilmuan. Maka coretan ini bissa menjadi salah satu bagian dari ungkapan rasa emosi yang telah tersimpan erat dalam jiwaku. Ketika setiap kesedihan dan tangis dari mereka yang tertindas tak lagi menjadi seruan untuk tetap berlawan. Para penguasa dimana saja sama!, hal itulah yang sedang terjadi di kampus UMI saat ini. Mata kita terbuka kan dengan lebar, silahkan palingkan wajah anda dalam wajah sedih mereka yang tak bisa lagi menafkahi keluarganya untuk kebutuhan sehari-harinya.
Mungkin mengutuk tuhan adalah sesuatu yang tak harus mereka lakukan namun, ternyata hal itu harus juga mereka lakukan demi sebuah kehormatan dan pertarungan nyata dalam hidup ini. Kekuasaan yang terus menggusur mereka dari tanah yang membuat mereka bisa merasakan sebuah makna kehidupan harus terjadi. Ketika kekuasaan tak lagi melihat siapa yang menjadikan itu, akhirnya mereka harus bertahan dengan semangat hidup yang tersisa demi sebuah pengorbanan dan keharusan untuk ada.
Sebuah kenyataan pahit yang harus mereka alami. Mata yang tadinya masih memberikan seberkas sinar kedamaian kini berubah menjadi sebuah sinar yang gelap yang harus mereka hadapi. Senyum yang selalu di rasakan dari bibir yang sudah berkerut itu pun lenyap seiring dengan kekejaman yang harus mereka terima demi sebuah alasan keindahan.
Tak ada lagi kata maupun nasehat dari tubuh yang sudah termakan waktu itu. Semuanya telah hilang. Tak adasuara canda tawa dari mereka yang sering singgah sambil berbagi keceriaan dan kesediihan di pojokan kampus itu. Semuanya telah diambil oleh mereka yang tak pernah tahu tentang makna dari kehidupan ini. Mereka selalu bersembunyi dibalik agama yang dianggapnya sebagai payung bahkan rumah berlindung yang cukup kokoh untuk menghalau kehancuran.
Kami harus berjuang melawan kerasnya meriam birokrasi dan jauhnya lemparan perangkat yang menurut kami merupakan pelindung tapi. Ternyata semua itu hanya kamuflase yang dilakukan mereka untuk membunuh kami perlahan-lahan.
Kami ingin bertanya padamu penguasa jagad, Kami ingin mengutukmu dan kami ingin melihat keabadian yang kau miliki. Kekuatan yang ada dalam diri kami sekarang ini adalah kekuataan yang takkan pernah mati. Dan apaun tak bisa membunuhnya. Ketika air mata hamba yang selalu mengangungkanMu tak ada lagi menjadi kekuatan yang bisa membuat kami menjadi kesatria sejati. Kami ingin menjadi bagian dari mereka yang tak pernah takut melawan kekuasaan yang semena-mena.
Pernahkah mereka melihat kami sebagai saudara mereka dari keturunan yang sama? Ataukah, mereka hanya melihat kami sebagai sebuah boneka mainan yang kapan saja bisa dibuang ketika sudah usang?. Pernahkah mereka merasakan apa yang kami rasakan sehari-hari? Atau mereka memang tak pernah memilki hati nurani hingga harus memperlakukan kami layaknya binatang liar yang hidup di hutan!. Ataukah mereka sebenarnya iblis dari para iblis yang selalu senang ketika melihat yang lainnya hanya mampu berteriak kemudian dibungkam dengan pembakaran, pengrusakan, pengancaman, hingga pengusiran dengan alas an keindahan itu?.
Kami hanya ingin merasakan ruang bebas dimana kami berekspresi dengan tenang, dimana kami bisa tertawa tanpa takut dengan teror, ataukah mereka memang telah menjadikan kami sebagai benteng yang kokoh yang suatu saat nanti dapat merongrong kekuasaannya.
Apakah kami harus mengatakan salah padahal itu sebuah kebenaran? Ataukah kami harus menuggu hingga kami pun ikut dibakar oleh perangkat formalistic yang menjadi kekuataannya?, tidak!!!!!.... kami harus menjadi sebuah tornado yang menghilangkan mereka layaknya kami menghilangkan debuan yang tertata rapi sepanjang jalan.
TUHAANNNNN!!!!!..... dengarlah suara mereka yang kau tindas, hingga mereka bangkit untuk membunuhmu.
TUHAAANNN!!!!!............... mereka hanya ingin ketenangan seperti para raja yang tertidur dengan pulas di atas ranjang empuknya, ataukah kami mencari keterangan dibalik cahaya kegelapan yang coba engkau benturkan sebagai lawan abadi kami.
Aku membecimu wahai birokrat kampus, jangan usik ketenagan kami, jangan kau urus sembarang hal yang menjadi kemerdekaan berekspresi kami.
PENGGUSURAN = PEMBUNUHAN,
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
tuhan tahu tapi menunggu
BalasHapus