airmata adalah bahasa yang melintasi seluruh peradaban manusia dan setiap ruang yang pernah dijangkau oleh cahaya mentari, airmata adalah bahasa paling tegas dan jujur serta bahasa yang mampu dimengerti oleh setiap mahluk perasa... tangismu yang tak terlihat merobek ruang waktu dan menghampiriku dengan caranya sendiri, mari sini kuhapus airmatamu, kukecup keningmu dan kutidurkan engkau dibahuku, mari sini kita berbicara tentang hari-hari yang begitu biru...
Rabu, 24 April 2013
April Makassar Berdarah
April Makassar berdarah ( Amarah) bukan lagi untuk mengenang kejadian 17 tahun lalu, melainkan menghitung setiap detiknya beberapa nyawa menjadi target dari pembunuhan berantai. Sebuah misteri ataupun dari konflik masa lalu yang terus ada. Makin hari konflik ini makin menjadi saja, tak ada yang bisa dilakukan pihak kampus UMI selain, megucapkan janji yang tak pernah ada realisasinya. Sebuah fenomena yang terus mengusik ketentraman dan keselarasan hidup dunia kampus di Makassar.
Semua pun bingung siapa yang seharusnya menanggung dosa setiap darah yang mengalir, dan setiap nyawa dari mereka yang tidak berdosa hilang hanya hitungan detik, menit, jam dan hari. Akankah semua ini terus menjadi sebuah trend an era budaya baru dalam kehidupan ini?. Setiap pasang mata pasti tidak ingin melihat, setipa pasang telinga tak ingin mendengar kabar, dari mereka yang harus pergi tanpa tahu apa-apa. Dan setiap pasang orang tua tak ingin kehilangan nyawa dari anak0anak mereka yang tak berdosa.
Mungkin kesalahan pendahulu yang telah membuat perselisihan ini ada, ataukah kita yang ada saat ini terlalu pintar bahkan kita terlalu bodoh untuk berbuat?. Setiap harinya mereka yang dating dengan tujuan menimpa ilmu, harus menjadi paranoid dengan konflik yang tak pernah menimpan kejelasan. Aparat kepolisian yang katanya! Menjadi tumpuan mencari keadilan tak lagi bisa diandalkan.
Kemarin Geis Setiawan yang harus menghenbuskan nafas terakhirnya di sebuah rumah sakit di kota Makassar, hari ini Ruslan, yang menkadi korban. Keduanya merupakan orang yang tidak tahu menahu permaslahan yang terjadi. Esok, lusa dan nanti siapa yang akan menjadi korban selanjutnya?.
Sikap tidak tegas dari birokrasi UMI, semakin nyata dengan tidak tuntasnya beberapa kasus berdarah yang terjadi di kampus hijau itu. Masih segar diingatan kita, tahun Salman harus menghembuskan nafas terakhirnya setelah adanya penyerbuan ke dalam kampus oleh oknum yang katanya dari salah satu organisasi eksternal.
Apakah salah satu dari kita esok, lusa ataukan nanti akan menjadi Geis, atau Ruslan selanjutnya?, yang harus menanggung dosa mereka yang telah menciptakan peperangan bodh yang mendarah daging di kampus hijau?.
Kita sekarang tidak tahu harus mengadu pada siapa. Bahkan langit pun seakan merestui partumpahan darah yang terjadi di UMI. Kita hanya memaki!, kita hanya bisa berharap kepada aparat setan, tolol, bodoh dan goblok itu. Berharap setiap peristiwa bisa terselesaikan dengan jalur bodoh dan tolol itu. Konflik yang ada di UMI merupakan konflik titipan dari birokrasi, mengapa? Alasannya sangat sederhana. Setiap konflik berdarah sengaja dibiarkan hingga menjadi sebuah nilai jual untuk UMI agar dapat di kenal, ataupun sebagai salah satu promosi UMI sebagai salah satu kampus perguruan silat yang hebat di Indonesia.
Sungguh bodoh dan tolol. Tapi, kita yang sadar dengan hal itu seolah takut untuk melawan kampus. Dengan ancaman DO ataupun skorsing. Bukan harus membunuh sesame mahasiswa melainkan, kita harus satu tanggalkan bendera, musuh kita sekarang tertawa terbahak-bahak melihat kita yang di bawah saling mencari, membunuh, bahkan saling mengusik satu sama lain.
Mari semua buka mata kita, apalah arti sebuah pertumpahan darah jika mereka yang tak bersalah selalu menjadi korban!. Dan apabila kita memang siap perang musuh kita bukan siapa-siapa melainkan diri sendiri.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar