Jumat, 04 Desember 2015

“Ginjalku” Untuk Anakku

Fenomena maraknya orang-orang yang menjual ginjalnya demi sesuatu yang sangat mendesak dalam keluarganya sudah sering kita jumpai. Namun, dibalik apa yang tengah mereka lakukan itu ada hal lain yang harusnya kita perhatikan, apa dan kenapa semua itu terjadi?.
Tak heran jika kita melihat sebuah kejadian seperti ini, kita sering mengidentikkan bahwa mereka yang menjual ginjal itu adalah perbuatan yang salah. Mereka tidak tahu dampak yang timbul ketika mereka harus hidup dengan satu ginjal. Tapi paradikma itu runtuh ketika siapa saja tahu apa dibalik semua itu.

Beberapa hari terakhir ini kita disontakkan dengan seorang anak yang memilki penyakit kelainan hati harus berjuang melawan penyakitnya itu dibalik paceklik keluarga yang dialaminya. Hingga sang ayah pun rela dengan senang hati menjual ginjal demi nama sebuah “pengobatan”. Ketidakmampuan mereka untuk membayar biaya pengobatan menjadikan mereka harus hidup dalam bingkai ketidaksejahteraan yang dialami oleh masyarakat bangsa ini. Kejadian demi kejadian seperti ini pun terus terjadi bagai sebuah gejala alam yang tak pernah membuat mata kita untuk mau melihat sekitar kita.

Meskipun akhirnya pihak dari kemenkes turut dalam pengobatan Adrian, hal ini tidak serta merta memberikan rasa lega bagi keluarganya. Seperti yang dialami oleh sang ayah, ia mengeluhkan lambannya penanganan yang dilakukan oleh petugas medik yang ada di rumah sakit dalam menangani sakit yang dialami oleh anaknya. Menurutnya, pihak rumah sakit telah melakukan sebuah tindakan pembiaran yang seharusnya tidak dilakukan oleh mereka yang mangatasnamakan pengabdian bagi masyarakat dalam dunia kesehatan.
Selain kisah dari Adrian dan sang ayah yang tidak merasakan nikmatnya pelayanan di negeri yang “katanya” kaya dan besar ini, cerita lain juga muncul dari ujung Indonesia. Hal serupa nyaris menyita perhatian kita beberapa bulan silam. Dengan terang-terangan memasang iklan di media sosial menjual ginjalnya dengan alasan biaya pendidikan. Ini merupakan sebuah bukti bahwa negara telah gagal mensejahterakan masyarakatnya dan mencerdaskan kehidupan bangsa ini.

Perlu dingat bahwa usia kemerdekaan indonesia telah mencapai angka yang sangat tua yaitu 70. Slogan ini kemudian menjadi branding beberapa kantor pelayanan publik namun, pelayanan yang ada hanya slogan to’. Ironi ini masih ada di Indonesia jangan menutup mata jangan menutup telinga anda untuk mendengar suara mereka yang ada dibawah sana. Negera ini harus lebih memperhatikan lagi nasib rakyatnya.

Sebuah cerita yang terus menggangu tidurku selam dua malam berturut-turut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar