“Pahlawan” tanpa tanda jasa begitulah istilah lama yang terus ada hingga kini yang melekat pada sebuah profesi yang memberikan pendidikan untuk semua orang yang merupakan bukan kerabat ataupun tetangga dekatnya, profesi inilah yang kita kenal dengan sebutan ‘guru”.
Tanpa peran seorang guru apa yang ada saat ini bukanlah apa-apa. Berkat guru banyak manusia indonesia yang bisa tahu membaca, menulis, berbicara dan sebagainya. Banyak hal yang bisa dijadikan guru bukan hanya orang mengajar kita di rumah, sekolah, dan universitas tetapi, alam pun menjadi guru yang besar dalam roda kehidupan ini.
Seorang guru yang rela meninggalkan keluarganya demi anak orang lain yang berada jauh dari tempat tinggalnya. Berangkat pagi dan harus melewati ribuan kilometer hanya untuk sebuah nama yaitu “pengabdian” bagi negeri ini. Menjalani peran yang sangat besar terkadang guru pun mendapat cacian ketika anak didiknya mendapoatkan nilai yang buruk. Para orang tua tidak pernah melihat ketika pulang dari sekolah lingkungan anaknya bagaiamana!!!.
Guru juga selalu menjadi pesakitan ketika beberapa siswanya kemudian mengalami kegagalan dalam sebuah ujian. Tak heran jika banyak guru yang ada di negeri ini selalu mengharapkan kesejahteraan yang seharusnya mereka dapatkan. Bukan sebuah penghargaan ataupun sebuah lencana yang diharapakannya melainkan hanaya sebatas melihat anak didiknya dikemudian hari bisa menjadi orang yang besar dan berguna untuk negeri ini.
Tempat mengajar yang jauh bahkan harus menyebrang pulau tidak diperdulikan demia sebuah pekerjaan yang merupakan sumpah dan janji. Namun, ketika semua itu ada negara tidak pernah melihat hal ini. Kesejahteraan para guru masih menjadi persoalan yang tak kunjung terselesaikan. Belum lagi pemerataan guru hingga ke pelosok masih sangat kurang. Terkadang juga pemerintah daerah setempat lebih memelih kolusi dalam seleksi penerimaan guru. Selain masalah kesejahteraan, maslah klasik yang juga terjadi dalam dunia keguruan kita yaitu, proses rekruitmen yang cenderung KKN, serta kurangnya perhatian pemerintah terhadap guru-guru yang ada di pelosok kurang mendapatkan perhatian serta masih tingginya perbedaan anatara guru negeri dan guru swasta.
Potret ini belum juga bisa diselesaikan oleh pemerintah. Melakukan revolusi mental khususnya dalam dunia pendididkan kita belum memliki dampak yang sangat besar. Praktek-praktek kotor dalam proses rekriutmen guru misalnya masih terus terjadi. Hal ini juga ditambah parah dengan adanya diskriminasi anatar guru yang mengajar di sekolah swasta, kepulauan, pelosok dengan mereka yang menjadi guru di daerah perkotaan.
Harusnya negara mengambil peran yang lebih besar bukan hanya sebagai peleksana roda kehidupan bangsa ini, tetapi negara harus lebih melihat lagi permasalahan klasik yang terus terjadi dalam dunia pendidikan kita. Keberadaan guru merupakan bagaian yang tidak terpisahkan dari apa dan bagaiaman negara mencerdaskan rakyatnya. Pemerintah seharusnya melakukan sentralisasi untuk hal pemerataan guru karena sejauh ini, pihak pemda tidak bisa mengakomodir pemerataan guru di indonesia. Dengan sentralisasi ini, pemerintah juga bisa mengurangi bahkan menghilangkan praktek KKN dalam rekriutmen guru. Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai pengabdian para guru di negeranya.
Terlepas dari apa yang ada diatas, kasus yang juga sering menjerat para guru adalah kasus kekerasan yang dilakukan guru terhadap muridnya. Hal ini juga menjadi masalah yang ada dalam dunia pendidikan kita. Maraknya kekerasan yang dilakukan oleh oknum guru tidak jarang membuat citra profesi ini mulai mendapat keomentar negatif dari beberapa elemen masyarakat khusunya para orang tua dan penggiat anti kekerasan terhadap anak. Bahkan di Amerika beberapa guru harus berurusan dengan meja hijau akibat perbuatan tidak senonoh yang dilakukan oleh beberapa guru perempuan.
Tapi, terlepas dari kasus diatas, peran guru tetap nomor satu dalam menciptakan generasi yang luar biasa dan memilki daya saing dengan bangsa lainnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar