Sabtu, 19 Januari 2019

Mutiara dari TPAS


Sebuah Catatan kecil dari TPAS Tamangapa Part 1

Menyapa tahun 2019 melalui sebuah coretan kecil. Ya... sebuah coretan awal tahun saya kali ini diawali dari tempat pembuangan akhir sampah atau yang lebih akrab kita sebut TPAS.

Pembuka cerita si Kecil berbagi akan mengulas sedikit ji tentang seorang gadis petarung yang hidup di sekitaran TPAS.  Tulisan ini juga tidak sepenuhnya menggambarkan perjalann hidup Melisah. Namun, tulisan ini bisa menjadi sebuah inspirasi untuk seluruh anak-anak di negeri ini.

Tulisan ini hanya sebuah tulisan singkat. Penulis menggangap sayang jika beberapa ide ataupun kata yang ada dalam kepala penulis tidak disalurkan dan dijadikan sebuah informasi kecil. Selain itu, sangat sayang jika persaudaraan ini ada tanpa kenangan.

Ada banyak kekurangan dalam tulisan ini. Namun, ini bukaan berarti kisah tentang tokoh dalam cerita ini tidak asik untuk baca teman-temin....

Ok gaesss..... Melisah, begitu orang sekitar dan teman-teman lainnya menyapanya. Gadis kecil yang nampak biasa-biasa saja jika diperhatikan sepintas.... heheheh.
Lahir dan besar di wilayahh TPAS tidak serta merta membuat ia menjadi perempuan yang hidup dalam kepasrahan dengan kondisi yang yang ada di lingkungan sekitar dimana ia berada.

Yuhu.... tidak seperti beberapa perempuan lainnya yang hidup di kota Makassar, Melisah kecil yang lahir dan besar di pinggiran kota Makassar sangat jauh dari kata mapan, tapi tidak serta merta membuat  ia lupa akan arti dari sebuah mimpi dan cita-cita.

Melisa kecil merupakan anak dampingan Yayasan Pabbata Ummi (YAPTA-U) sebuah lembaga swadaya masyarakat yang melakukan pendampingan terhadap anak pemulung di kota Makassar sejak tahun 1992, sekaligus menjadi salah satu lembaga pemerhati anak tertua di Sulawesi selatan. 

Menghabiskan masa kecil di sebuah sekolah dasar yang berada di pinggiran kota Makassar, tidak membuat ia berhenti untuk  terus meraih cita-citanya menjadi seorang jaksa.

Setelah remaja  Melisah kemudian melanjutkan pendidikan menengah di sebuah sekolah menengah yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Maklum saja, di wilayah antang cukup banyak mi sekolah gan...

Masa remaja Melisah pun tidak sama dengan beberapa teman seusianya. Kondisi lingkungan dan kebutuhan akan hidup membuat ia juga terkadang merelakan waktu bermainnya dengan sibuk membantu orang tua. Melisah remaja akhirnya bisa selesai menempuh pendidikan menengah dan berhasil melanjutkannya ke jenjang yang lebih tinggi.

Kehidupan paas-pasan tidak serta mengurangi niat Melisah untuk melanjutkan kuliah. Hal itu kemudian berhasil dilakukan dengan lolos murni di fakultas hukum Unhas. Tidak hanya sampai di situ, perempuan berkacamata ini juga berhasil mendapatkan beasiswa selama menjadi mahasiswi unhas. 

Sebuah prestasi yang luar biasa yang dimana tidak semua orang dapat melakukan hal yang sama dengan Melisah.  Hal ini pula yang kemudian membuat penulis memberikan gelar “Mutiara dari TPAS”.

Saat ini Melisah sudah semester 4 di FH Unhas dan masih terus menjadi gadis lucu dan selalu penuh dengan rasa ingin tahu.

Kisah singkat Melisah hanya mewakili sekian banyak cerita keberhasilan anak-anak yang berasal dari TPAS Antang. Semoga kisah singkat ini bisa memberikan sebuah inspirasi untuk seluruh anak-anak yang ada di pinggiran Makassar pada umumnya dan seluuh anak di indonesia pada umumnya...

Pelajaran terpenting bahwa kita jangan pernah berputus asa, teruslah bermimpi karena mimpi dan mewujudkan mimpi tersebut adalah bagian terindah dalam hidup kita... selamat tahun baru 2019 gaess... semoga tahun baru ini bisa menjadi lebih berkah dan lebih baik dari sebelumnya... jangan menyerah wahai anak negeri ini....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar