Sebuah
Catatan kecil dari TPAS Tamangapa Part 1
Menyapa tahun 2019 melalui sebuah coretan kecil. Ya... sebuah
coretan awal tahun saya kali ini diawali dari tempat pembuangan akhir sampah
atau yang lebih akrab kita sebut TPAS.
Pembuka cerita si Kecil berbagi akan mengulas sedikit ji
tentang seorang gadis petarung yang hidup di sekitaran TPAS. Tulisan ini juga tidak sepenuhnya menggambarkan
perjalann hidup Melisah. Namun, tulisan ini bisa menjadi sebuah inspirasi untuk
seluruh anak-anak di negeri ini.
Tulisan ini hanya sebuah tulisan singkat. Penulis menggangap
sayang jika beberapa ide ataupun kata yang ada dalam kepala penulis tidak
disalurkan dan dijadikan sebuah informasi kecil. Selain itu, sangat sayang jika
persaudaraan ini ada tanpa kenangan.
Ada banyak kekurangan dalam tulisan ini. Namun, ini bukaan
berarti kisah tentang tokoh dalam cerita ini tidak asik untuk baca
teman-temin....
Ok gaesss..... Melisah, begitu orang sekitar dan teman-teman
lainnya menyapanya. Gadis kecil yang nampak biasa-biasa saja jika diperhatikan
sepintas.... heheheh.
Lahir dan besar di wilayahh TPAS tidak serta merta membuat ia
menjadi perempuan yang hidup dalam kepasrahan dengan kondisi yang yang ada di
lingkungan sekitar dimana ia berada.
Yuhu.... tidak seperti beberapa perempuan lainnya yang hidup
di kota Makassar, Melisah kecil yang lahir dan besar di pinggiran kota Makassar
sangat jauh dari kata mapan, tapi tidak serta merta membuat ia lupa akan arti dari sebuah mimpi dan
cita-cita.
Melisa kecil merupakan anak dampingan Yayasan Pabbata Ummi
(YAPTA-U) sebuah lembaga swadaya masyarakat yang melakukan pendampingan
terhadap anak pemulung di kota Makassar sejak tahun 1992, sekaligus menjadi
salah satu lembaga pemerhati anak tertua di Sulawesi selatan.
Menghabiskan masa
kecil di sebuah sekolah dasar yang berada di pinggiran kota Makassar, tidak
membuat ia berhenti untuk terus meraih cita-citanya
menjadi seorang jaksa.
Setelah remaja Melisah
kemudian melanjutkan pendidikan menengah di sebuah sekolah menengah yang tidak
jauh dari tempat tinggalnya. Maklum saja, di wilayah antang cukup banyak mi
sekolah gan...
Masa remaja Melisah pun tidak sama dengan beberapa teman seusianya.
Kondisi lingkungan dan kebutuhan akan hidup membuat ia juga terkadang merelakan
waktu bermainnya dengan sibuk membantu orang tua. Melisah remaja akhirnya bisa
selesai menempuh pendidikan menengah dan berhasil melanjutkannya ke jenjang yang
lebih tinggi.
Kehidupan paas-pasan tidak serta mengurangi niat Melisah untuk
melanjutkan kuliah. Hal itu kemudian berhasil dilakukan dengan lolos murni di
fakultas hukum Unhas. Tidak hanya sampai di situ, perempuan berkacamata ini
juga berhasil mendapatkan beasiswa selama menjadi mahasiswi unhas.
Sebuah prestasi
yang luar biasa yang dimana tidak semua orang dapat melakukan hal yang sama
dengan Melisah. Hal ini pula yang
kemudian membuat penulis memberikan gelar “Mutiara dari TPAS”.
Saat ini Melisah sudah semester 4 di FH Unhas dan masih terus
menjadi gadis lucu dan selalu penuh dengan rasa ingin tahu.
Kisah singkat Melisah hanya mewakili sekian banyak cerita
keberhasilan anak-anak yang berasal dari TPAS Antang. Semoga kisah singkat ini
bisa memberikan sebuah inspirasi untuk seluruh anak-anak yang ada di pinggiran Makassar
pada umumnya dan seluuh anak di indonesia pada umumnya...
Pelajaran terpenting bahwa kita jangan pernah berputus asa,
teruslah bermimpi karena mimpi dan mewujudkan mimpi tersebut adalah bagian
terindah dalam hidup kita... selamat tahun baru 2019 gaess... semoga tahun baru
ini bisa menjadi lebih berkah dan lebih baik dari sebelumnya... jangan menyerah
wahai anak negeri ini....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar