Malam ini kembali bergelutb denga beberapa coretan dan hamparan kata yang belum usai. Cerita
malam yang panjang, bersipa mengantarku menjemput pagi esok. Khayalan semakin
jauh saja dan semakin meninggi. Meniggalkan kita dalam keheningan sendiri.
Sendiri menggores dinding malam ini. Menembus pekat
dan tebaknya kabut harapan akan dirimu. Cerita hari yang takkunjung selesai. Kemudian
dibalut cerita absurd dalam dawai sendu menemani jiwa yang sepi.
Kesabaran, ketulusan, cinta, dan keyakinan adalah
satu kesatuan utuh yang membuat lingkaran gejolak dalam aliran darah dan nadi. Masih
aku menunggu semua hal itu. Meskipun sebenanrnya kedekatan kita telah
mengungkapkan rasa yang kita miliki. Tapi, masih banyak bayangan lalu yang harus
kita lalui dalam kehidupan yang relatif singkat ini.
Aku memilki trauma dengan cinta sebelumnya, ssma
seperti dirimu yang masih terjebak dalam masa lalu pahit. Yah.. kita pernah dan
masih bangkit dari lubang hitam cinta masa lalu. Sulit untuk mengatakan jika apa
yang ada saat ini adalah sebuah “ketulusan”.
Dalam benakmu yang dalam masih ada masa lalu yang
indah. Sama halnya dengan diriku, masa lalu yang indah itu pun baru berakhir. Sulit
untuk aku maupun engkau percaya tentang ketulusan yang ada dalam diri kita masing-masing.
Engkau pernah berucap tentang sebuah ketulusan, hal
ini yang yang membuat saya terus menggantungkan harapan padamu. Namun, seiring
waktu berlalu, aku sadar juka seua itu “mungkin” sebuah ungkapan untuk
menghibur kegalauan yang mekanda diriku dikala badai menghantam.
Saling berkabar melalui angin malam. Saling bersapa
diujung malam. Saling bercanda untuk mengelabuhi rasa sepi masing-masing. Mungkin
kita berdua menjadikan satu sama lain sebagai pelarian untuk saat ini, atau mungkin
waktu yang lama sampai kita menemukan pasangan kedua yang cocok dengan kita
masing-masing.
Pembunuhan rasa sepi kita selalu ditutupi dengan “kepura-puraan”
kemsraan yang hanya sesaat. Ketidak saling mengenalnya kita satu sama lain
merupakan sisi lain dari ungkapan ketidakjelasan kita.
Malam selalu menjadi temanku. Berusaha untuk tidak
mengulangi kesalahan yang sama. Jatuh pada lubang yang sama. Berusaha untuk lupa dengan masa lalu tapi,
toh.. hasilnya tetap saja begitu.
Sementara saya berusah mengubah “diri” dari
kebiasaan lama, saat itu aku pun tidak menjumpai sosok dirimu yang menjadi
inspirasi ku untuk menjadi pribadi yang baik.
Semakin dalam saja rasa ini untukmu. Tapi seolah
tidak terbalas. Mungkin ini juga sebagai pertanda agar aku lekas begegas
bangkit sebelum fajar menyingsing, dan tak ada lagi cinta yang datang untukku.
Kini kau nampak bahagia dan lebih bisa tersenyum. Mungkin
itu juga alasan ku harus mundur dan mencari kehidupan ku sendiri. Kelak kita
akan berjumpa dengan jalan hati masing-masing... (fr-I_01-a-r04)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar