Selasa, 07 Agustus 2018

Melukis Malam Untukmu


Malam ini kembali bergelutb denga beberapa  coretan dan hamparan kata yang belum usai. Cerita malam yang panjang, bersipa mengantarku menjemput pagi esok. Khayalan semakin jauh saja dan semakin meninggi. Meniggalkan kita dalam keheningan sendiri.

Sendiri menggores dinding malam ini. Menembus pekat dan tebaknya kabut harapan akan dirimu. Cerita hari yang takkunjung selesai. Kemudian dibalut cerita absurd dalam dawai sendu menemani jiwa yang sepi.

Kesabaran, ketulusan, cinta, dan keyakinan adalah satu kesatuan utuh yang membuat lingkaran gejolak dalam aliran darah dan nadi. Masih aku menunggu semua hal itu. Meskipun sebenanrnya kedekatan kita telah mengungkapkan rasa yang kita miliki. Tapi, masih banyak bayangan lalu yang harus kita lalui dalam kehidupan yang relatif singkat ini.

Aku memilki trauma dengan cinta sebelumnya, ssma seperti dirimu yang masih terjebak dalam masa lalu pahit. Yah.. kita pernah dan masih bangkit dari lubang hitam cinta masa lalu. Sulit untuk mengatakan jika apa yang ada saat ini adalah sebuah “ketulusan”.

Dalam benakmu yang dalam masih ada masa lalu yang indah. Sama halnya dengan diriku, masa lalu yang indah itu pun baru berakhir. Sulit untuk aku maupun engkau percaya tentang ketulusan yang ada dalam  diri kita masing-masing.

Engkau pernah berucap tentang sebuah ketulusan, hal ini yang yang membuat saya terus menggantungkan harapan padamu. Namun, seiring waktu berlalu, aku sadar juka seua itu “mungkin” sebuah ungkapan untuk menghibur kegalauan yang mekanda diriku dikala badai menghantam.

Saling berkabar melalui angin malam. Saling bersapa diujung malam. Saling bercanda untuk mengelabuhi rasa sepi masing-masing. Mungkin kita berdua menjadikan satu sama lain sebagai pelarian untuk saat ini, atau mungkin waktu yang lama sampai kita menemukan pasangan kedua yang cocok dengan kita masing-masing.

Pembunuhan rasa sepi kita selalu ditutupi dengan “kepura-puraan” kemsraan yang hanya sesaat. Ketidak saling mengenalnya kita satu sama lain merupakan sisi lain dari ungkapan ketidakjelasan kita.

Malam selalu menjadi temanku. Berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Jatuh pada lubang yang sama.  Berusaha untuk lupa dengan masa lalu tapi, toh.. hasilnya tetap saja begitu.

Sementara saya berusah mengubah “diri” dari kebiasaan lama, saat itu aku pun tidak menjumpai sosok dirimu yang menjadi inspirasi ku untuk menjadi pribadi yang baik.

Semakin dalam saja rasa ini untukmu. Tapi seolah tidak terbalas. Mungkin ini juga sebagai pertanda agar aku lekas begegas bangkit sebelum fajar menyingsing, dan tak ada lagi cinta yang datang untukku.

Kini kau nampak bahagia dan lebih bisa tersenyum. Mungkin itu juga alasan ku harus mundur dan mencari kehidupan ku sendiri. Kelak kita akan berjumpa dengan jalan hati masing-masing... (fr-I_01-a-r04)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar